Aku merasa iri (ghibtah, dalam makna iri yang terpuji) kepada seseorang yang bersungguh-sungguh, istiqamah, dan selalu sibuk dalam setiap kebaikan. Aku iri kepadanya karena tidak ada sesuatu pun yang mampu menghentikannya; tidak panasnya musim kemarau, tidak dinginnya musim dingin, tidak pula dahsyatnya peperangan, hiruk-pikuk fitnah, rumitnya berbagai persoalan, ataupun sakit yang menyiksanya.
Bahkan ia terus melangkah dengan memohon pertolongan kepada Allah, tetap teguh pada rencananya, dan terus melanjutkan perjalanannya. Ia tidak mengenal berhenti, tidak rela tenggelam dalam kemalasan, tetapi senantiasa berpindah dari satu pintu kebaikan ke pintu kebaikan lainnya hingga bertemu dengan Allah Ta'ala.
Aku iri kepada seseorang ketika ia tenggelam di antara tumpukan kitab, menimba ilmu dari mata airnya yang jernih, sekaligus menyucikan akal & hatinya.
Aku iri padanya saat ia mengambil manuskrip-manuskrip kuno, membalik lembarannya dengan penuh kelembutan, menghidupkan kembali makna-makna yang terkandung di dalamnya, mengurai kata-kata yang asing, di sudut perpustakaan yang tenang. Ia menghidupkan kembali ilmu yang hampir punah, menyambungkan kembali warisan ulama salaf dengan generasi belakangan.
Aku iri kepadanya ketika ia senantiasa mendampingi seorang ulama rabbani. Ia belajar adab sebelum ilmu, mengambil petunjuk melalui keteladanan sebelum nasihat lisan. Ia mencurahkan dirinya untuk dakwah; mengajar, menulis, menasihati, dan menanamkan kebaikan di mana pun ia berada.
Aku iri kepadanya ketika ia mendatangi keluarga-keluarga yang sedang kesulitan, berusaha mendamaikan manusia, menjadi tempat orang-orang yang berselisih mencari penyelesaian. Keluarga-keluarga yang dilanda pertikaian mendatanginya. Ia mendengarkan dengan hatinya sebelum telinganya, menyatukan kembali setelah perpecahan, menumbuhkan kasih sayang setelah renggang. Simpul-simpul masalah terurai melalui tangannya, dan rumah-rumah kembali tenang serta tenteram dengan karunia Allah, kemudian melalui kebijaksanaan dan kelembutannya.
Aku iri kepada lelaki itu yang memahami besarnya amanah hidupnya. Ia berlomba dengan waktu, memanfaatkan setiap hembusan napasnya, memperbanyak amal saleh. Ia tidak masuk ke setiap pertikaian, tidak ikut kepada setiap kegaduhan, dan tidak menyia-nyiakan umurnya dengan mengikuti urusan serta kabar-kabar manusia.
Sungguh ia telah menyadari bahwa umur terlalu singkat untuk dihabiskan dalam gosip dan pembicaraan yang tak bermanfaat, dan bahwa kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti dan diperjuangkan.
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau gunakan dalam ketaatan padaMu. Tolonglah kami untuk memenuhi kebutuhan hamba-hambaMu dan mendamaikan sesama. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang saleh, dan jadikanlah hari terbaik dalam hidup kami adalah hari ketika kami berjumpa denganMu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara semua yang mengasihi.
Diterjemahkan dari link
https://x.com/i/status/2084092409198285048===
Follow Chanel telegram & instagram Syaikh Prof.Dr. Ashim Al Qaryuti hafizhahullah dalam bahasa Indonesia:
#SyaikhAshimAlQaryuti #twitulama #nasihat #iri #ilmu #renungan