ROBBANI MEDIATAMA Telegram channel photo

ROBBANI MEDIATAMA

@robbanimediatamaPublic Channel

Kumpulan tulisan dan video kajian Islam

4.2k

Last views

8.2k (8,200 subscribers)
Anggota
—
Rating
47
Total Posts
Oct 21, 2026, 6:53 PM
Diperbarui
Apr 3, 2026
Created
Stats

Anda melihat konten dalam bahasa Indonesia. Untuk melihat konten dalam bahasa lain, ubah bahasa situs web.

Channel Information

Channel Information
Channel NameROBBANI MEDIATAMA
Username@robbanimediatama
CategoryEbook & Materi Pelajaran
LanguageIndonesia
CountryIndonesia
Anggota8,200
Channel TypePublic Channel
Created3 Apr 2026
Last Updated21 Okt 2026 • kemarin dulu
StatusActive

Peringkat

Peringkat Global
#262828-47
Peringkat Bahasa
#1137+5
Peringkat Kategori
#2356-1

Pertumbuhan Pelanggan

Total: 8.2K30 Days growth: -640.8%
09/2209/2710/0210/0710/1210/1710/21
Pertumbuhan Pelanggan - 30 Days
DateSubscribers
22:09:20268,264
23:09:20268,264
24:09:20268,264
25:09:20268,264
26:09:20268,264
27:09:20268,264
28:09:20268,264
29:09:20268,264
30:09:20268,264
01:10:20268,264
02:10:20268,264
03:10:20268,264
04:10:20268,264
05:10:20268,264
06:10:20268,264
07:10:20268,264
08:10:20268,264
09:10:20268,264
10:10:20268,264
11:10:20268,264
12:10:20268,264
13:10:20268,219
14:10:20268,219
15:10:20268,219
16:10:20268,219
17:10:20268,219
18:10:20268,219
19:10:20268,219
20:10:20268,219
21:10:20268,200
Pertumbuhan Pelanggan - Weekly
DateSubscribers
Week of 30:03:20268,469
Week of 06:04:20268,449
Week of 13:04:20268,432
Week of 20:04:20268,432
Week of 27:04:20268,415
Week of 04:05:20268,415
Week of 11:05:20268,457
Week of 18:05:20268,457
Week of 25:05:20268,457
Week of 01:06:20268,442
Week of 08:06:20268,442
Week of 15:06:20268,442
Week of 22:06:20268,395
Week of 29:06:20268,395
Week of 06:07:20268,395
Week of 13:07:20268,357
Week of 20:07:20268,357
Week of 27:07:20268,357
Week of 03:08:20268,338
Week of 10:08:20268,338
Week of 17:08:20268,297
Week of 24:08:20268,295
Week of 31:08:20268,295
Week of 07:09:20268,275
Week of 14:09:20268,264
Week of 21:09:20268,264
Week of 28:09:20268,264
Week of 05:10:20268,264
Week of 12:10:20268,219
Week of 19:10:20268,200
Pertumbuhan Pelanggan - Monthly
DateSubscribers
April 20268,415
May 20268,457
June 20268,395
July 20268,357
August 20268,295
September 20268,264
October 20268,200
Pertumbuhan Pelanggan - Yearly
DateSubscribers
20268,200

Postingan Terbaru

ROBBANI MEDIATAMA logo
ROBBANI MEDIATAMA

09 Sep 2026, 18.12

Photo
Buku Baru!

STUDI DUNIA ISLAM KONTEMPORER
Membaca Tantangan, Ancaman, dan Dinamika Umat Islam Modern

Mengapa Dunia Islam yang pernah memimpin peradaban dunia kini menghadapi begitu banyak tantangan?

Apa akar persoalan yang melahirkan perpecahan, westernisasi, kolonialisme modern, kemunduran pendidikan, hingga berbagai konflik yang terus melanda negeri-negeri Muslim?

Info buku :
559 halaman, 15,5 x 24, HVS 60 gram, Hard Cover
Harga : Rp. 175.000,-.
Discount 20 %
Ongkir Pulau Jawa Rp. 10.000, Luar Jawa Rp. 20.000
Pemesanan
Firhat Rabbani
BSI 7127183923
Konfirmasi
Novia
085717662245
(Nama, bukti transfer, alamat lengkap dan no HP)
4,240006
ROBBANI MEDIATAMA logo
ROBBANI MEDIATAMA

09 Sep 2026, 18.12

Menjadi pengikut dalam kebenaran jauh lebih baik daripada menjadi pemimpin dalam kebatilan.

Karena itu, jangan malu menerima kebenaran meskipun orang lain telah lebih dahulu melakukannya.

Jangan pula merasa berat meninggalkan kebatilan ketika kamu telah mengetahui bahwa itu memang batil.

Sesungguhnya bentuk rasa malu yang paling tinggi adalah malu kepada Allah.

Pelajaran Ketiga:

Dalam sirah Nabi terdapat pelajaran; maka ambillah ibrahnya.

Peristiwa-peristiwa dalam sirah bukan sekadar kisah yang menarik untuk diceritakan.

Ia adalah pelajaran bagi setiap zaman, karena karakter manusia pada hakikatnya tetap sama.

Sebagian orang munafik di Madinah dahulu adalah tokoh-tokoh terpandang.

Seandainya kamu melihat mereka, pasti kamu merasa iri kepada penampilan mereka, kekayaan mereka, dan kedudukan mereka di tengah masyarakat.

Namun setelah mengetahui hakikat mereka, kamu pasti memuji Allah karena tidak dijadikan seperti mereka.

Nabi ﷺ menceritakan tentang seorang wanita dari Bani Israil yang sedang menyusui anaknya.

Lalu lewatlah seorang penunggang kuda yang tampak gagah dan berwibawa.

Sang ibu berdoa:

“Ya Allah, jadikanlah anakku seperti orang itu.”

Tiba-tiba bayi itu melepaskan susuan ibunya dan berkata:

“Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.”

Kemudian ia kembali menyusu.

Tak lama kemudian lewat seorang budak perempuan yang sedang dipukuli.

Orang-orang menuduhnya mencuri dan berzina.

Sang ibu berdoa:

“Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti perempuan itu.”

Sekali lagi bayi itu melepaskan susuan ibunya dan berkata:

“Ya Allah, jadikan aku seperti dia.”

Ibunya pun bertanya:

“Mengapa demikian?”

Bayi itu menjawab:

“Penunggang kuda itu adalah seorang tiran dari kalangan orang-orang zalim. Sedangkan budak perempuan itu dituduh mencuri dan berzina, padahal ia tidak melakukannya.”

Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan bagi Nabi ﷺ, kita membenarkan setiap berita yang disampaikan Nabi saw, sekalipun akal merasa berat menerimanya.

Karena itu:

* Jangan iri kepada orang-orang kaya sebelum kamu mengetahui komitment agamanya.
* Jangan iri kepada orang-orang yang memiliki jabatan sebelum kamu mengetahui akhlaknya.
* Jangan iri kepada orang-orang yang memiliki kehormatan dan kedudukan sebelum kamu mengetahui ibadahnya.

Standar manusia berada di satu lembah, sedangkan standar Allah berada di lembah yang lain.

Betapa banyak orang yang kusut rambutnya, berdebu pakaiannya, hanya mengenakan pakaian sederhana, ditolak jika mengetuk pintu, dan tidak dipandang oleh manusia.

Namun seandainya ia bersumpah atas nama Allah, pasti Allah mengabulkan sumpahnya.

***
4,7300038
ROBBANI MEDIATAMA logo
ROBBANI MEDIATAMA

09 Sep 2026, 18.12

ALASAN MUDAH DICARI, BILA HATI BERMASALAH!
Oleh: Adham Syarqawi
Penerjemah: Aunur Rafiq Saleh, Lc.

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata:

Ketika hendak berangkat menuju Perang Tabuk, Nabi saw bertanya kepada Al-Jadd bin Qais, salah seorang munafik:

“Wahai Jadd bin Qais, bagaimana pendapatmu tentang berjihad melawan Bani Al-Ashfar (bangsa Romawi yang berambut pirang)?”

Ia menjawab:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku seorang yang sangat menyukai wanita. Jika melihat wanita-wanita Romawi yang berambut pirang, aku khawatir akan tergoda. Maka izinkanlah aku untuk tidak ikut berperang, dan janganlah engkau menjadikanku terkena fitnah.”

Lalu Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ ائْذَنْ لِّيْ وَلَا تَفْتِنِّيْۗ اَلَا فِى الْفِتْنَةِ سَقَطُوْاۗ وَاِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيْطَةٌ ۢ بِالْكٰفِرِيْنَ

"Di antara mereka ada orang yang berkata, “Berilah aku izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau (Nabi Muhammad) menjerumuskan aku ke dalam fitnah.” Ketahuilah, bahwa mereka (dengan keengganannya pergi berjihad) telah terjerumus ke dalam fitnah. Sesungguhnya (neraka) Jahanam benar-benar meliputi orang-orang kafir.’” (QS. At-Taubah: 49)

Pelajaran Pertama:

Mereka adalah orang-orang munafik: lahiriahnya beriman, tetapi batinnya kufur.

Kesalehan yang tampak zahirnya saja, sementara di baliknya tersembunyi hati yang rusak.

Penampilan mereka menarik, tetapi jiwa mereka sakit dan busuk.

Betapa sering Abdullah bin Ubay bin Salul shalat di belakang Nabi ﷺ di masjid, namun shalat itu sama sekali tidak bermanfaat baginya. Sebab ia melakukannya demi menjaga kedudukan sosialnya dan agar tetap menjadi pusat perhatian masyarakat.

Demikian pula Al-Akhnas bin Syuraiq Ats-Tsaqafi. Kata-katanya sangat memukau. Siapa pun yang mendengarnya pasti berkata, “Alangkah baiknya orang ini.”

Padahal lisan yang manis itu menyembunyikan jiwa yang sakit dan hati yang sekeras batu.

Tentang dirinya, Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ ۙ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ

"Di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Nabi Muhammad) dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas (kebenaran) isi hatinya. Padahal, dia adalah penentang yang paling keras.” (QS. Al-Baqarah: 204)

Kini Al-Jadd bin Qais mengikuti jejak kedua kawannya tersebut.

Ia meminta izin tidak ikut berjihad dengan alasan takut tergoda oleh kecantikan wanita-wanita Romawi yang berambut pirang.

Padahal hakikatnya bukan itu.

Yang ada hanyalah sifat pengecut menghadapi peperangan, takut mati, dan sebelumnya telah mendustakan kenabian.

Pelajaran Kedua:

Tempat seorang mukmin berada di tempat yang dikhendaki Allah, bukan di tempat yang dikehendaki hawa nafsunya.

Surga tidak bisa diraih kecuali dengan menentang hawa nafsu!

Al-Jadd bin Qais tidak ikut Perang Tabuk dengan alasan yang rapuh.

Pada awalnya, seorang sahabat mulia Abu Khaitsamah ra juga sempat tertinggal.

Beberapa hari setelah Rasulullah ﷺ berangkat, Abu Khaitsamah ra kembali ke kebunnya.

Ia melihat dua istrinya, buah-buahan yang telah matang, air yang sejuk, dan tempat yang teduh.

Lalu ia berkata kepada dirinya sendiri:

“Rasulullah ﷺ berada di tengah panas, angin, dan terik matahari, sedangkan aku berada dalam kenikmatan seperti ini?”

Ia segera memanggil kedua istrinya dan berkata:

“Siapkanlah bekal untukku. Aku akan menyusul Rasulullah ﷺ.”

Ia pun berangkat demi menemani kekasihnya ﷺ dalam perjuangan.

Ia baru berhasil menyusul ketika Rasulullah ﷺ telah tiba di Tabuk dan pasukan telah berkemah.

Dari kejauhan kaum muslimin melihat seseorang datang, tetapi mereka belum mengenalinya.

Rasulullah ﷺ berulang kali berdoa:

“Semoga itu Abu Khaitsamah.”

Ketika orang itu semakin dekat, para sahabat berkata:

“Demi Allah, wahai Rasulullah, benar, itu adalah Abu Khaitsamah.”

Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Datang terlambat jauh lebih baik daripada tidak datang sama sekali.
3,8800031
ROBBANI MEDIATAMA logo
ROBBANI MEDIATAMA

09 Sep 2026, 18.12

Serial Percikan Iman #159

KEZHALIMAN ADALAH KEGELAPAN
Oleh: Iman Santoso, Lc.

{ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ }

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk" [Surat Al-An'am: 82]

Dari Abdullah bin Mas'ud berkata, ketika turun ayat ini (Al-An'am 82), para sahabat merasa berat dan berkata, Ya Rasululah Saw siapa diantara kami yang tidak menzhalimi diri. Lalu Rasulullah Saw bersabda, " Sesungguhnya bukan  seperti yang kamu maksud itu,  bukankah kamu mendengar apa yang dikatakan hamba yang shalih (Luqman)

{  يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ }

"Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” [Surat Luqman: 13] ( HR Al-Bukhari)

Dari pemahaman ini kezhaliman terbagi menjadi tiga:

1. Kezhaliman terhadap Allah, yaitu kekafiran dan kemusyrikan, inilah kezhaliman yang paling besar karena berdusta atas nama Allah dan menyekutukan Allah dengan mahluk-Nya.

2. Kezhaliman kepada mahluk Allah,  zhalim kepada manusia dan merusak lingkungan, seperti para penguasa yang membunuh, korupsi, dan segala bentuk kezhaliman terhadap rakyat. Para preman yang menindas dan memeras dll.

3. Kezhaliman  terhadap diri sendiri seperti melalaikan dan berlebihan terhadap  kewajiban dan berbagai bentuk kemaksiatan .

Rasulullah Saw. bersabda:

الظلم ثلاثة فظلم لا يغفر الله وظلم يغفره وظلم لا يتركه فاما الظلم الذي لا يغفره فالشرك قال تعالى ان الشرك لظلم عظيم واما الظلم الذي يغفره فظلم العباد انفسهم فيها بينهم وبين ربهم واما الذي لا يتركه الله فظلم العباد بعضهم بعضا حتى يدين لبعضهم من بعض

Kezaliman dibagi tiga. (1) Zalim yang tidak akan diampuni oleh Allah, (2) Kezaliman yang akan diampuni oleh-Nya, (3) Kezaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah. Adapun zalim yang tidak akan diampuni oleh Allah adalah perbuatan syirik. Allah Swt. berfirman: Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang amat besar. Adapun kezaliman yang diampuni oleh Allah adalah zalimnya manusia pada dirinya sendiri, yakni lalainya pada hak antara mereka dan Tuhannya. Adapun kezaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah adalah zalimnya manusia pada saudaranya yang lain sampai mereka saling memaafkan. (HR. Thoyalisi, dari Anas Bin Malik Ra, Mukhtarul Ahadits)

Disamping kezhaliman tersebut ada juga zhulm murokkab ( kezhaliman kumulatif) zhalim terhadap Allah, manusia, diri dan lingkungan.

Berbagai peristiwa baru berupa kematian rakyat sipil calon manajer Kopdes  yang ikut latihan militer, keracunan MBG, korupsi, penyekapan dan penindasan terhadap wanita,  LGBT, perusakan hutan dan lingkungan serta melanggar berbagai peraturan dll adalah kezhaliman yang harus dikoreksi dan dihentikan.

Segala bentuk kezhaliman  diharamkan. Dalam hadits qudsi, Allah swt. berfirman:

يا عبادي اني حرمت الظلم على نفسي وجعلته بينكم محرما فلا تظالموا

Wahai hamba-hamba-Ku, Aku haramkan kezaliman pada diriku sendiri dan Aku jadikan suatu hal yang diharamkan pada kalian, oleh karena itu janganlah kalian saling menzalimi. (HR. Ahmad)

Rasulullah Saw bersabda:

اتَّقوا الظُّلمَ؛ فإنَّ الظُّلمَ ظُلُماتٌ يَومَ القيامةِ، واتَّقوا الشُّحَّ؛ فإنَّ الشُّحَّ أهلَك مَن كانَ قَبلكم، حَمَلَهم على أن سَفَكوا دِماءَهم، واستَحَلُّوا مَحارِمَهم.

Takut dan hindarilah kezhaliman, karena kezhaliman adalah kegelapan di hari Kiamat. Dan takut dan hindarilah  kekikiran karena kekikiran menghancurkan orang sebelum kamu. Kekikiran mengantakan pada penumpahan darah mereka dan menghalalkan yang diharamkan." ( HR Muslim). Wallahu a'lam.

***
4,5100031
ROBBANI MEDIATAMA logo
ROBBANI MEDIATAMA

25 Mei 2026, 03.22

Mereka tidak bersyukur karena terbebas dari risiko perang. Mereka justru pulang dengan air mata yang meledak (tafīdhu minad-dam‘i), karena sedih kehilangan akses untuk berkorban sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 92.

Mobilisasi harta ini menunjukkan kepada dunia — terutama Romawi dan kaum munafik — bahwa persatuan umat Islam dibangun di atas pengorbanan tulus, bukan kepentingan materi.

Bagaimana Heroisme Ini Bisa Terjadi?
Bagaimana mungkin masyarakat yang sedang dihimpit paceklik mampu melakukan mobilisasi harta yang melampaui logika ekonomi?

Jawabannya adalah karena Al-Qur’an telah berhasil merombak arsitektur mental mereka. Pengorbanan Tabuk bukanlah kebetulan sejarah, melainkan hasil dari rekayasa kesadaran yang dibangun melalui pemahaman mendalam terhadap ayat-ayat jihad dan valuasi momentum yang presisi.

Dan dari sinilah kita memasuki pembahasan yang lebih mendasar: bagaimana Al-Qur’an membangun cara pandang para Sahabat terhadap waktu, momentum, dan nilai pengorbanan.

(Bersambung)

***
1,3600010
ROBBANI MEDIATAMA logo
ROBBANI MEDIATAMA

25 Mei 2026, 03.22

Serial Fikrah Al-Quran #02

Minimal Jadilah Bakkaun -Jaisyul ‘Usrah dan Arsitektur Mental Pengorbanan (Bagian 1 dari 3 Tulisan)
Oleh: Tutik Hasanah
Disarikan dari taujih K.H. Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc., Al-Hafizh pada mukhayyamat Al Quran

Pengantar

Perang Tabuk bukan sekadar catatan sejarah tentang mobilisasi pasukan. Ia adalah laboratorium keimanan yang memperlihatkan bagaimana Al-Qur’an membentuk manusia hingga mampu melampaui logika dunia.

Dalam peristiwa inilah tampak jelas bahwa kemenangan umat tidak dibangun hanya dengan keberanian fisik, tetapi dengan arsitektur mental yang menjadikan pengorbanan sebagai bentuk kemuliaan tertinggi. Dari sini, kita akan melihat bagaimana para Sahabat memahami momentum, memaknai harta, dan menjadikan kesulitan sebagai ruang untuk mendekat kepada Allah.

Eksplorasi Kedaulatan di Jaisyul ‘Usrah
Perang Tabuk bukan sekadar mobilisasi militer; ia adalah sebuah ruang filtrasi yang membedakan antara mereka yang membangun peradaban dan mereka yang sekadar menumpang di dalamnya.

Dikenal sebagai Jaisyul ‘Usrah (Pasukan Kesulitan), peristiwa ini terjadi saat Madinah dihimpit musim panas ekstrem dan paceklik yang mencekik. Di tengah tarikan antara kenyamanan panen kurma yang mulai ranum dan panggilan jihad melawan hegemoni Romawi, para Sahabat mempertontonkan sebuah “Manajemen Pengorbanan” yang melampaui logika ekonomi.

Abu Bakar Ash-Shiddiq — Totalitas Kedaulatan
Beliau hadir dengan membawa seluruh harta kekayaannya tanpa menyisakan satu dirham pun di rumahnya. Saat Rasulullah ﷺ bertanya tentang apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya, jawabannya menjadi proklamasi arsitektur mental yang paripurna:

“Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Ini bukan sekadar donasi, tetapi sebuah liquidating assets total demi tegaknya kedaulatan iman.

Umar bin Khattab — Kompetisi dalam Pengorbanan
Umar membawa setengah dari seluruh kekayaannya dengan target ideologis untuk mengungguli Abu Bakar. Namun, setelah menyaksikan totalitas Abu Bakar, ia menyadari bahwa level pengorbanan tersebut adalah standar yang tak mampu ia lampaui.

Utsman bin Affan — Investasi Strategis
Utsman menjadi dirigen utama dalam pendanaan pasukan Tabuk. Beliau membiayai sepertiga perlengkapan pasukan yang berjumlah 30.000 orang dengan:

950 ekor unta

50 ekor kuda

1.000 dinar emas yang ditumpahkan di pangkuan Nabi ﷺ

Inilah bentuk creating space terbesar dalam sejarah hingga Rasulullah ﷺ memberikan jaminan:

“Tak ada yang membahayakan Utsman setelah hari ini.”

Abu Aqil Al-Anshari — Logika Lembur
Abu Aqil tidak memiliki aset tetap. Maka ia bekerja sepanjang malam menarik timba air di kebun orang lain demi memperoleh dua sha’ kurma.

Satu sha’ ia tinggalkan untuk keluarganya, dan satu sha’ lagi ia bawa kepada Rasulullah ﷺ. Secara nominal kecil, tetapi secara ruhani ia adalah bentuk juhdahum — pengorbanan maksimal sesuai kapasitas.

Kisah Unta Bertali Kendali
Seorang sahabat datang membawa seekor unta lengkap dengan kendalinya. Meskipun hanya satu unit, Rasulullah ﷺ memberikan valuasi langit:

“Bagimu pada hari kiamat nanti 700 unta yang semuanya bertali kendali.”

Ini menunjukkan bahwa setiap kontribusi dalam perjuangan memiliki multiplier effect yang dahsyat.

Abdurrahman bin Auf, Al-Abbas, dan Thalhah
Abdurrahman bin Auf menyumbangkan 4.000 dirham — setengah hartanya.

Sementara Al-Abbas, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Ubadah, dan Muhammad bin Maslamah menjadi penyokong utama logistik perjalanan sejauh 800 km menuju utara agar nafas pasukan tidak terputus.

Kolektivitas Anshar dan Kaum Wanita
Asim bin Adi menyumbangkan 70 wasq atau sekitar 10 ton kurma. Para wanita Madinah pun melepas kalung, gelang, cincin, dan anting-anting mereka.

Mereka memahami bahwa kedaulatan umat hanya dapat tegak jika seluruh elemen memberikan akses finansial secara kolektif.

Al-Bakka’un — Eksistensi Air Mata
Di sisi lain terdapat tujuh sahabat yang tidak memiliki apa pun. Ketika Rasulullah ﷺ berkata:

“Aku tidak mendapati kendaraan untukmu.”
1,3100011
ROBBANI MEDIATAMA logo
ROBBANI MEDIATAMA

25 Mei 2026, 03.22

JUMAT BERKAH

Yuk ikut beramal jariyah melalui dakwah di sosial media YouTube, Instagram, Tiktok, channel Telegram, dan channel WhatsApp bersama Robbani Mediatama.

Partisipasi berupa infaq dapat dikirimkan ke: BSI 7288886665 a.n. Yayasan Robbani Mediatama Semesta
Konfirmasi dapat hubungi :
WA 081383299898

Semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan limpahan keberkahan kepada Bapak/Ibu dan Keluarga, aamiin yaa Rabbal 'alamin.
1,360002
ROBBANI MEDIATAMA logo
ROBBANI MEDIATAMA

25 Mei 2026, 03.22

SAAT DAKWAH BERBUAH HIKMAH
Oleh: Dr. Adih Amin, Lc., M.A.

tubuhnya agak besar dan tingginya diatas rata-rata lelaki pada umumnya. Santun ciri khasnya, senyum selalu menyertainya saat menyapa dan fokus memperhatikan lawan bicara saat ngobrol. Bersahaja namun tetap terlihat wibawanya, kecerdasannya tercermin melalui butiran-bitiran kata yang terucap, tidak canggung berinteraksi kepada siapapun, bersahabat dan selalu menjaga suasana komunikasi sehingga semua merasa nyaman dengannya.

Sosok itu hadir ditengah manusia dengan berbagai karakter dan sifat yang kadang sedikit menyebalkan karena keangkuhan dan kebodohan (ke-tidak tau-an) mereka. Dia tetap menjadi Bintang karena mampu mengendalikan suasana tetap kondusif dan produktif. Tidak baperan apalagi pundung alias mutung. Tetap tampil prima kepada siapapun yang ditemuinya, tidak pernah marah kepada yang menolak kehadirannya dan selalu mendoakan disetiap sujudnya agar orang-orang yang ditemuinya mendapat kebaikan dan cayaha Ilahi

Waktu berjalan bersamaan dengan usia yang kian menua. Banyak lorong yang telah dilalui, kerumunan manusia yang telah didatangi, majlis ilmu yang menjadi saksi akan harapan besaranya mencerdaskan umat. Tidak peduli seberapa banyak keringat yang telah membersamainya, ia terus berjalan tanpa merasa lelah karena berada dijalan dakwah adalah anugrah dan nikmat, begitu suara hatinya membisikkan. Istiomah dalam kebaikan walau tidak selalu berbuah kebaikan, bahkan sinis dan nyinyirpun sering menjadi hiasan perjalanannya

Berpegang pada pedoman dakwah sekaligus meyakininya karena ayat yang tidak akan pernah salah.
Bersandar kepada yang memiliki alam raya dan bertekat untuk tetap berada dijalanNya. Terus membaca dan menela’ah Khazanah keilmuan dan meniru Langkah para pendahulu yang telah menapaki jalan dakwah hingga akhir hidupnya. Tetap bergerak beriringan dengan segala ujiannya dan karena menyeru kepada kebaikan adalah sebuah keniscayaan

"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk." (An-nahl : 125)

Teladan, itulah kuncinya, dalam teladan ada keikhlasan, kesabaran dan istiomah. Isi hatinya berbuah ide yang menghiasi pikirannya, yang kemudian menjadi gerak langkahnya yang menjelma prilaku yang terlihat keindahannya, Hingga sekian banyak orang yang tertarik mendapat hikmah darinya, dan menjadi baik sebab dakwahnya.

Terima Kasih guru, orang baik yang telah Allah berkahi jalan hidup dan perjuangannya, menjadi cahaya ditengah pudarnya iman dan lemahnya mentalitas sebab beratnya tantangan. Semoga darinya, lahir generasi yang siap menjadi penerus dakwahnya karena dakwah ini adalah aktivitas yang terus bergerak dan akan tetap menyala menerangi, hingga kehidupan ini padam dan berakhir.

***
1,8800015
ROBBANI MEDIATAMA logo
ROBBANI MEDIATAMA

25 Mei 2026, 03.22

Serial Percikan Iman #156

MENJAGA JIWA
Oleh: Iman Santoso, Lc

{ .. وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمٗا }

"..Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." [Surat An-Nisa': 29]

Penggalan ayat ini mengandung  3  tafsir atau makna. Pertama, jangan kamu menjatuhkan diri pada kehancuran seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 195. Kedua, jangan kamu membunuh diri seperti yang dilarang dalam Al-Qur'an dan Sunnah.  Ketiga,  jangan kamu membunuh saudaranya, berkata Al-Hasan, yakni janganlah kalian saling membunuh satu sama lain.

Diantara Maqashid Syariah ( Tujuan Syariah Islam) adalah menjaga jiwa atau nyawa. Sehingga Islam melarang  segala tindakan yang membahayakan keselamatan orang lain,  bahkan yang lebih ringan dari  itu,  melarang merusak dan merugikan orang lain. Rasulullah Saw bersabda:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

"Tidak boleh mengawali  perbuatan yang membahayakan orang lain ataupun melakuan tindakan balasan yang membahayakan" (HR Ahmad, Ibnu Majah dan At-Tabrani)

Disebutkan dalam riwayat bahwa Amirul Mukminin Umar Bin Khattab ra pernah berkata,

وَالَّذِي بَعَثَ مُحَمَّدًا بِالْحَقِّ ، لَوْ أَنَّ جَمَلا هَلَكَ ضَيَاعًا بِشَطِّ الْفُرَاتِ ، خَشِيتُ أَنْ يَسْأَلَ اللَّهُ عَنْهُ آلَ الْخَطَّابِ ".

Umar Ibnu Al-Khattab, semoga Allah meridainya, berpidato kepada orang-orang, dan berkata: “Demi Zat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, jika seekor unta mati karena kelalaian di tepi Sungai Eufrat, aku khawatir Allah akan menanyai keluarga Al-Khattab tentang hal itu.” (At-Tabari dalam At-Tarikh)

Inilah contoh kepala negara yang bertanggung jawab terhadap rakyatnya.  Negara, dan pemerintahan yang hadir untuk melindungi rakyatnya. 
Sebenarnya dalam konstitusi kita sudah disebutkan tujuan dan kewajiban negara, sebagaimana disebutkan dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Disebutkan juga dalam Adagium Latin  tentang Prinsip Hukum: Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

Realitasnya masih jauh dari ideal, di Indonesia, musibah di jalan raya atau musibah lalu lintas hampir terjadi setiap saat, bukan setiap hari lagi. Dan baru saja terjadi tabrakan maut  kereta api di Bekasi, tabrakan bus di Sumatera dll. Musibah ini menimbulkan puluhan korban jiwa dan  korban luka menyebabkan  duka yang mendalam bagi keluarga.

Di Pantura,  jalan raya yang panjang dan padat, termasuk yang banyak terjadi kecelakaan lalu lintas dan menimbulkan banyak korban jiwa dan harta. Lalu dimana tanggung jawab negara, kepala negara, para menteri, kepala daerah dan pejabat dibawahnya ?

Problem klasik ini harus menjadi perhatian kita bersama, baik para pemimpin maupun rakyatnya. Islam mengajarkan kita untuk berbuat terbaik dan profesional atau atau ihsan,  berbuat baik dalam melaksanakan tugas, disiplin, tertib, tidak lalai dan ceroboh yang dapat membahayakan orang lain. Rasul Saw bersabda: 

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ.  (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

”Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mewajibkan  ihsan ( berbuat baik) pada segala sesuatu...” (HR Muslim)

Marilah kita jadikan musibah tabrakan kereta api sebagai momentum untuk berbenah dan memperbaiki tata kelola  masyarakat, pemerintahan dan negara  yang baik, aman, adil, bersih dan sejahtera. Semoga!

***
2,2700017
ROBBANI MEDIATAMA logo
ROBBANI MEDIATAMA

10 Mei 2026, 14.57

Dengan demikian, Al-Hasyr ayat 8 memberikan prinsip pertama konstruksi peradaban: ruang baru yang berkah hanya mungkin lahir dari manusia yang jujur dalam niat, jujur dalam iman, dan jujur dalam pengorbanan. Kaum Muhajirin kehilangan rumah secara fisik, tetapi mereka tidak kehilangan arah spiritual. Mereka keluar dari ruang lama dengan membawa kejujuran iman sebagai modal utama untuk memasuki ruang peradaban yang baru.

Al-Hasyr Ayat 9: Tabawwa sebagai Seni Menciptakan Ruang Internal dan Eksternal

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَـٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةًۭ مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۭ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ٩

“Dan orang-orang yang telah menempati negeri itu dan telah beriman sebelum kedatangan mereka, mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menemukan dalam dada mereka suatu keinginan terhadap apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga dalam kesusahan. Siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Jika ayat 8 menggambarkan manusia yang meninggalkan ruang lama, maka ayat 9 menggambarkan manusia yang menyiapkan ruang baru. Di sinilah kata تَبَوَّءُوا menjadi pusat pembahasan. Frasa تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ tidak cukup dipahami sebagai “mereka tinggal di negeri itu dan beriman.” Susunan ini memiliki kedalaman retoris yang sangat kuat, karena Al-Qur’an menggandengkan الدَّارَ dan الإِيمَانَ dalam satu bangunan makna.

Dalam frasa itu, الإِيمَانَ dapat dipahami sebagai lingkungan internal. Ia menunjuk pada ruang batin dan ruang spiritual yang mengikat Muhajirin dan Ansar dalam satu persaudaraan iman. Muhajirin datang sebagai orang yang kehilangan rumah dan harta, sedangkan Ansar menyambut mereka bukan atas dasar kesukuan, kepentingan ekonomi, atau transaksi politik. Keduanya dipersatukan oleh iman, sehingga yang lahir bukan sekadar relasi tuan rumah dan pendatang, melainkan relasi saudara dalam Allah.

Sementara itu, الدَّارَ dapat dipahami sebagai lingkungan eksternal. Ia menunjuk kepada Madinah sebagai ruang sosial yang nyata, historis, dan plural. Madinah bukan lingkungan yang seluruhnya homogen secara agama dan sosial. Di dalamnya terdapat kaum Muslim, kaum musyrik, komunitas Yahudi, serta berbagai unsur masyarakat yang hidup dalam struktur sosial yang majemuk. Maka ketika Al-Qur’an mengatakan تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ, ayat ini memberi isyarat bahwa kaum Ansar tidak hanya menata ruang batin keimanan, tetapi juga menata ruang sosial Madinah yang plural.

Dengan demikian, tabawwa dalam ayat ini memiliki dua dimensi sekaligus. Pertama, ia adalah penciptaan lingkungan internal, yaitu persaudaraan iman antara Muhajirin dan Ansar. Kedua, ia adalah penciptaan lingkungan eksternal, yaitu kemampuan mengelola kehidupan bersama di tengah komunitas Madinah yang plural. Inilah kedalaman peradaban Madinah: kuat di dalam karena iman, terbuka ke luar karena mampu hidup dalam realitas sosial yang beragam.

Maka tabawwa bukan sekadar tinggal di suatu tempat. Ia adalah tindakan aktif menciptakan habitat keimanan dan habitat sosial sekaligus. Kaum Ansar bukan hanya menyediakan tempat tinggal bagi Muhajirin, tetapi juga menghadirkan suasana penerimaan. Mereka bukan hanya membuka pintu rumah, tetapi juga membuka pintu hati. Mereka bukan hanya mengatur ruang fisik, tetapi juga membangun ruang batin yang membuat orang lain merasa aman, dihormati, dan dicintai.

Inilah yang dapat disebut sebagai creating space. Kaum Muhajirin datang sebagai orang yang terusir, tetapi di Madinah mereka tidak diperlakukan sebagai beban. Mereka diterima sebagai saudara. Madinah menjadi ruang baru tempat luka sosial dipulihkan dan martabat manusia dikembalikan.
1,1100012
ROBBANI MEDIATAMA logo
ROBBANI MEDIATAMA

10 Mei 2026, 14.57

Serial Fikrah Al-Quran #01

Tabawwa' dan Konstruksi Peradaban: Membaca Al-Hasyr 8-10 dalam Hubungannya dengan Yunus 93
(Ditulis dan dikembangkan oleh Ustadzah Tutik Hasanah dari Taujih K.H. Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc.,)

Pendahuluan: Melampaui Terjemahan Literal

Kata تَبَوَّأَ dalam bahasa Arab lazim diterjemahkan sebagai “menempati”, “mengambil tempat tinggal”, atau “menetap”. Akan tetapi, dalam jaringan makna Al-Qur’an, kata ini tidak berhenti pada pengertian lokasi geografis. Ia mengandung makna menyiapkan ruang, menata lingkungan, membangun basis kehidupan, dan menghadirkan suatu tempat sebagai ruang bermakna.

Dengan demikian, tabawwā' dapat dipahami bukan hanya sebagai menempati ruang, tetapi juga sebagai creating space, creating community, bahkan creating civilization. Pembacaan ini menjadi penting ketika Al-Qur’an menggunakan ungkapan تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ dalam Surat Al-Hasyr ayat 9. Kaum Ansar tidak sekadar menjadi penduduk Madinah secara fisik, tetapi menjadi komunitas yang lebih dahulu menata Madinah sebagai ruang iman, ruang sosial, dan ruang peradaban.

Artikel ini mengajukan argumentasi bahwa Al-Hasyr ayat 8, 9, dan 10 menyajikan model Qur’ani tentang kelahiran peradaban. Ayat 8 menghadirkan kaum Muhajirin sebagai manusia yang berani melepaskan kepemilikan material demi keridaan Allah. Ayat 9 menghadirkan kaum Ansar sebagai komunitas yang menciptakan ruang sosial dengan cinta dan pengutamaan orang lain. Ayat 10 menghadirkan generasi beriman sesudah mereka sebagai penjaga atmosfer batin peradaban melalui doa, pengampunan, dan pembersihan hati dari غِلّ.

Ketika suasana spiritual seperti ini terkumpul, Allah memberikan bentuk kediaman terbaik, sebagaimana tergambar dalam Yunus ayat 93: مُبَوَّأَ صِدْقٍ, sebuah tempat tinggal yang benar, layak, berkah, dan bermartabat.

Al-Hasyr Ayat 8: Modal Awal Peradaban adalah Pengorbanan dan Kejujuran

لِلْفُقَرَآءِ ٱلْمُهَـٰجِرِينَ ٱلَّذِينَ أُخْرِجُوا۟ مِن دِيَـٰرِهِمْ وَأَمْوَٰلِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًۭا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًۭا وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّـٰدِقُونَ ٨

“Bagi orang-orang fakir Muhajirin yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka; mereka mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya, serta menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Ayat ini membuka bangunan argumentasi peradaban dengan sebuah paradoks besar. Peradaban Islam di Madinah tidak dimulai dari manusia yang datang dengan kekayaan, kekuasaan, dan kemapanan sosial. Ia justru dimulai dari kaum yang datang dalam keadaan kehilangan hampir seluruh sandaran duniawinya.

Al-Qur’an menyebut mereka لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ, orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin. Mereka bukan hanya miskin karena tidak memiliki harta, tetapi juga fakir secara sosial karena tercerabut dari rumah, keluarga besar, jaringan ekonomi, dan kehormatan kabilah yang sebelumnya melindungi mereka.

Ungkapan أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ menegaskan bahwa hijrah bukan perjalanan romantik. Hijrah adalah pengalaman eksistensial yang keras. Mereka keluar dari Makkah bukan sebagai pelancong, melainkan sebagai manusia yang dipaksa meninggalkan rumah dan harta.

Namun justru dalam keadaan paling rentan itu, Al-Qur’an menyingkap motif terdalam mereka: يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا. Mereka mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Inilah titik pentingnya. Peradaban yang benar tidak dibangun pertama-tama oleh modal ekonomi, tetapi oleh orientasi rohani yang jernih.

Ayat ini ditutup dengan frasa أُولَـٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ, “mereka itulah orang-orang yang benar.” Al-Qur’an tidak menyebut mereka sebagai orang yang paling kuat, paling strategis, atau paling kaya. Al-Qur’an menyebut mereka الصَّادِقُونَ. Artinya, fondasi pertama peradaban bukanlah kekuatan material, melainkan kejujuran eksistensial.
1,200008
ROBBANI MEDIATAMA logo
ROBBANI MEDIATAMA

10 Mei 2026, 14.57

"Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas ia berkata, "Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu." [Surat Ya-Sin: 20]

Dakwah ini adalah rahasia kebangkitan umat Islam, dan dakwah tidak dapat dilaksanakan secara optimal oleh perorangan, bahkan kelompok. Dakwah harus dilaksanakan  oleh umat Islam secara berjamaah atau amal jamai. Setiap muslim harus melakukan harokah (gerakan) dakwah agar mendapat berkah .

5. Bangga terhadap Islam

Diriwayatkan pada saat melihat keingkaran kaumnya, dan ada upaya pembunuhan terhadap nabi nabi Isa as, maka beliau mengajak pengikut setianya untuk menjadi membela agama Allah:

{ ۞فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ قَالَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ }

"Maka ketika Isa merasakan kengingkaran mereka (Bani Israil), dia berkata, “Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para Ḥawāriyyūn (sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim". [Surat Ali 'Imran: 52]

Keislaman nabi Isa as dan pengikut setianya diabadikan dalam Al-Qur'an.  Dan itu merupakan pernyataan kebanggaan. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita.”

6. Membela dan Memperjuangkan Islam

Tidak cukup hanya menjadi pribadi yang shalih, tetapi harus menjadi muslih (melakukan perbaikan terhadap orang lain). Membela Islam dari para pembenci dan musuhnya:

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad.” (QS. Al-Hajj: 78)

Membela dan memperjuangkan Islam dalam kehidupan suatu keniscayaan bagi setiap muslim. Karena kaum Kuffar berupaya menjauhkan umat Islam  jauh dari Islam, bahkan citranya dirusak dan berupaya dipadamkan dari kehidupan, namun cahaya Allah akan terus bersinar. Allah Ta'ala berfirman:

{ يُرِيدُونَ أَن يُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ }

"Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan muluṭ (ucapan - ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai" [Surat At-Taubah: 32]

***
1,5700016
ROBBANI MEDIATAMA logo
ROBBANI MEDIATAMA

10 Mei 2026, 14.57

Serial Percikan Iman #155

ENAM KEWAJIBAN UMAT TERHADAP ISLAM
Oleh: Iman Santoso, Lc

{ وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ }

"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, "Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)." [Surat Fushilat: 33]

Nikmat terbesar bagi umat manusia adalah nikmat Islam, dengan nikmat ini umat muslim mengetahui jalan yang lurus (shirathal mustaqim) dalam kehidupannya di dunia,  dan in sya Allah akan selamat melewati shirath (jalan melalui jembatan) di akhirat dimana dibawahnya adalah api neraka. Sayang, tidak seluruh umat manusia mengimani ajaran Islam, bahkan hanya sedikit saja yang mengimaninya. Dari  8 milyar penduduk dunia, hanya sekitar 2 milyar yang muslim.  Muslim yang taat pada Allah dan Rasul-Nya inilah orang yang paling mendapatkan nikmat Allah,  mereka akan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih di surga.

{ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ وَحَسُنَ أُوْلَٰٓئِكَ رَفِيقٗا }

"Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang orang salih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya". [Surat An-Nisa': 69]

Dalam sebuah khutbah Jumat, syaikh Muhammad Said Bakr salah seorang ulama keturunan Palestina dan Wakil Ketua Persatuan Ulama Palestina menyampaikan enam  kewajiban umat Islam terhadap ajaran Islam.

1. Memeluk Islam

Kewajiban ini sejatinya merupakan kewajiban  bagi seluruh umat manusia, yaitu beriman dan menerima  Islam sebagai agama, karena Allah hanya menurunkan satu agama untuk seluruh umat manusia melalui para nabinya. Allah berfirman:

{ إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ ...}

“Sesungguhnya agama yang diakui di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19)

Kita menyaksikan diantara hikmah perang Tufanul Aqsa Gaza, banyak umat manusia simpati pada keteguhan dan perjuangan umat Islam Gaza Palestina dan berbondong-bondong lebih banyak lagi yang masuk Islam.

2. Mempelajari Ajaran Islam

Setelah memeluk Islam, kewajiban berikutnya adalah mempelajarinya. Sahabat Abu Darda ra berkata:

قال أبو الدرداء رضي الله عنه: «كن عالما، أو متعلما، أو محبا، أو متبعا، ولا تكن الخامس فتهلك

"Jadilah engkau orang yang berilmu, atau belajar ilmu, atau pecinta ilmu atau pengikut ilmu dan jangan engkau menjadi yang kelima, maka engkau akan binasa". ( Kitab Al-Jami li bayanil ilmi wa fadhlihi)

Berdasarkan riwayat ini, maka  manusia terkait ilmu ada empat golongan:

- ‘Alim (orang berilmu) terhadap agama Islam.
- Muta‘allim (orang yang belajar)
- Muhibban (orang yang mencintai ilmu).
- Muttabi‘an (pengikut)

Dan beliau memperingatkan: “Jangan menjadi golongan kelima (yang tidak termasuk semua itu), maka engkau akan binasa.”

Rasulullah ﷺ  bersabda:
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

3. Mengamalkan Ajaran Islam

Ilmu tanpa amal tidak akan  sempurna, bahkan mendapat teguran dari Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2)

Dalam kehidupan sehari-hari, ada amalan harian yang harus menjadi bekal setiap muslim, shalat lima waktu berjamaah; shalat Sunnah; tilawah harian; dzikir harian dll.

Amal-amal dalam Islam ruang lingkupnya sangat luas, semua itu diperlukan ilmu dan keahlian. Sehingga amal kita sampai ke tingkat ihsan.

4. Mendakwahkan Islam

Diriwayatkan bahwa seorang bernama Habib An-Najjar  bersemangat dalam dakwah,  berjalan dari ujung kota mengajak manusia untuk mengikuti ajaran para Rasul, semangat dakwahnya diabadikan Al-Qur'an surat Yasiin:

{ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ }
1,6400011

Showing 30 of 47 posts

Peringkat

Diperlukan Masuk

Frequently Asked Questions

Channel Telegram ROBBANI MEDIATAMA tentang apa?+

ROBBANI MEDIATAMA (@robbanimediatama) adalah channel Telegram di kategori Ebook & Materi Pelajaran di tgdio. Lihat ranking, rating, ulasan, dan postingan terbaru sebelum berlangganan. Saat ini sekitar 8.200 subscriber di tgdio.

Bagaimana bergabung dengan ROBBANI MEDIATAMA (@robbanimediatama)?+

Buka profil di tgdio, lalu Join / Open in Telegram untuk berlangganan @robbanimediatama gratis.

Apakah ROBBANI MEDIATAMA channel Ebook & Materi Pelajaran yang bagus?+

Di tgdio Anda bisa cek rating, ulasan, ranking, dan postingan ROBBANI MEDIATAMA sebelum bergabung. Saat ini sekitar 8.200 subscriber di tgdio. Bandingkan dengan channel Ebook & Materi Pelajaran serupa.

Di mana melihat statistik dan postingan ROBBANI MEDIATAMA?+

Di tgdio, buka halaman @robbanimediatama untuk statistik, ranking, rating, dan postingan.