Para sahabat radhiallahu ‘anhum ajma’in mengenal dua jalan, yaitu kebaikan dan keburukan, secara terperinci. Hal ini membuat mereka semakin kuat mencintai kebenaran dan membenci keburukan, sebab mereka memahami agama ini sesuai dengan penjelasan Allah ‘Azza wa Jalla di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Keadaan para sahabat sangat berbeda dengan generasi setelahnya. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa sebagian generasi setelah sahabat tumbuh dalam Islam tanpa mengenal rincian dari hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Padahal, Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerincinya. Terlebih lagi, setan senantiasa menghiasi keburukan dan membungkusnya dengan kata-kata indah yang menipu.
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
“Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.” (QS. Al-An’am [6]: 112)
أَفَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا
“Maka apakah pantas orang yang dijadikan merasa indah perbuatan buruknya, lalu ia menganggap baik perbuatannya itu?” (QS. Fatir [35]: 😍
Seseorang yang tidak mengetahui rincian penyimpangan dan kesesatan akan mudah terperangkap dalam tipuan setan yang mengemas keburukan tampak indah. Oleh karena itu, penting untuk memahami rincian keburukan berdasarkan penjelasan Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih, serta keterangan para sahabat radhiallahu ‘anhum ajma’in.
Ketidaktahuan terhadap rincian hal-hal yang bertentangan dengan Islam menimbulkan kerancuan antara jalan orang-orang beriman dan jalan orang-orang yang durhaka. Keburukan sering kali ditampilkan seolah-olah memiliki dalil atau dianggap sebagai wujud kecintaan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang saleh, seperti perbuatan syirik, tawasul yang keliru kepada wali, ataupun perayaan-perayaan tanpa dalil. Banyak orang membelanya karena tidak mengenal rincian jalan orang-orang yang durhaka dan tidak memahami pembahasan bid’ah serta kesesatan dalam agama.
Selengkapnya:
https://rodja.id/61a