FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN Telegram channel photo

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

@fawaidabuabdirrahmanPublic Channel

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

269

Last views

3.8k (3,839 subscribers)
Anggota
—
Rating
85
Total Posts
Oct 23, 2026, 7:59 AM
Diperbarui
Apr 10, 2026
Created
Stats

Anda melihat konten dalam bahasa Indonesia. Untuk melihat konten dalam bahasa lain, ubah bahasa situs web.

Channel Information

Channel Information
Channel NameFAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN
Username@fawaidabuabdirrahman
CategoryMotivasi Harian
LanguageIndonesia
CountryIndonesia
Anggota3,839
Channel TypePublic Channel
Created10 Apr 2026
Last Updated23 Okt 2026 • 7 jam yang lalu
StatusActive

Peringkat

Peringkat Global
#307442-408
Peringkat Bahasa
#1479+4
Peringkat Kategori
#2445-4

Pertumbuhan Pelanggan

Total: 3.8K30 Days growth: -491.3%
09/2409/2910/0410/0910/1410/1910/23
Pertumbuhan Pelanggan - 30 Days
DateSubscribers
24:09:20263,888
25:09:20263,888
26:09:20263,888
27:09:20263,888
28:09:20263,888
29:09:20263,888
30:09:20263,888
01:10:20263,888
02:10:20263,888
03:10:20263,888
04:10:20263,888
05:10:20263,888
06:10:20263,888
07:10:20263,888
08:10:20263,888
09:10:20263,888
10:10:20263,888
11:10:20263,888
12:10:20263,888
13:10:20263,888
14:10:20263,888
15:10:20263,845
16:10:20263,845
17:10:20263,845
18:10:20263,845
19:10:20263,845
20:10:20263,845
21:10:20263,845
22:10:20263,845
23:10:20263,839
Pertumbuhan Pelanggan - Weekly
DateSubscribers
Week of 06:04:20264,109
Week of 13:04:20264,112
Week of 20:04:20264,112
Week of 27:04:20264,064
Week of 04:05:20264,064
Week of 11:05:20264,064
Week of 18:05:20264,048
Week of 25:05:20264,048
Week of 01:06:20264,048
Week of 08:06:20264,048
Week of 15:06:20264,048
Week of 22:06:20264,048
Week of 29:06:20263,988
Week of 06:07:20263,988
Week of 13:07:20263,988
Week of 20:07:20263,988
Week of 27:07:20263,988
Week of 03:08:20263,936
Week of 10:08:20263,936
Week of 17:08:20263,915
Week of 24:08:20263,909
Week of 31:08:20263,909
Week of 07:09:20263,895
Week of 14:09:20263,888
Week of 21:09:20263,888
Week of 28:09:20263,888
Week of 05:10:20263,888
Week of 12:10:20263,845
Week of 19:10:20263,839
Pertumbuhan Pelanggan - Monthly
DateSubscribers
April 20264,112
May 20264,048
June 20264,048
July 20263,988
August 20263,909
September 20263,888
October 20263,839
Pertumbuhan Pelanggan - Yearly
DateSubscribers
20263,839

Postingan Terbaru

5/ Kita diperintahkan berlindung kepada Allah dari fitnah keduanya.

Sufyan Ats-Tsauri rohimahulloh tidak mengatakan sekadar “hati-hatilah”, tetapi :

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ

“Berlindunglah kalian semua kepada Allah.”

Ini menunjukkan betapa besarnya bahayanya dua fitnah tersebut.

Kesimpulannya :

العابد الجاهل يفسد الناس بجهله، والعالم الفاجر يفسد الناس بهواه.

“Ahli ibadah yang bodoh merusak manusia dengan kebodohannya, sedangkan orang berilmu yang fajir, merusak manusia dengan hawa nafsunya.”

✓ Maka jangan sampai kita menjadi orang yang rajin beramal tetapi tidak mau belajar, dan jangan pula menjadi orang yang rajin belajar tetapi tidak mau mengamalkan ilmunya.

✓ Ilmu tanpa amal adalah hujjah atas pemiliknya, sedangkan amal tanpa ilmu mudah menjerumuskan kepada kesesatan.

Demikianlah pembahasan yang ringkas ini, semoga bisa menjadi nasehat untuk kita semuanya ....

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah ....

Ditulis di Sine-Ngawi, Jum'at pagi yg sejuk, 27 Robi'ul Akhir 1448 H / 9 Oktober 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

https://t.me/fawaidabuabdirrahman

Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
269000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

BERHATI-HATILAH DARI DUA JENIS MANUSIA INI !

قال الإمام سفيان الثوري رحمه الله :

تعوذوا بالله من فتنة العابد الجاهل وفتنة العالم الفاجر، فإن فتنتهما فنتة لكل مفتون (شرح السنة، ٢/٣١٨)

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rohimahulloh pernah berkata :

“Berlindunglah kalian kepada Alloh dari fitnah orang yang ahli ibadah tetapi bodoh, dan dari fitnah seorang yang berilmu tetapi fajir (gemar berbuat dosa). Karena fitnah keduanya merupakan fitnah bagi setiap orang yang terkena fitnah." ( Syarhus Sunnah, 2/318)

Catatan :

Nasehat dan perkataan Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rohimahulloh mengingatkan adanya dua tipe manusia yang sangat berbahaya bagi agama, yaitu :

a/ Al-‘Ābid al-Jāhil (ahli ibadah yang bodoh).

Dia mungkin banyak shalat, puasa, dzikir, membaca Al-Qur'an dan tampak sangat bersemangat dalam agama, tetapi tidak memiliki ilmu yang benar.

Akibatnya, dia bisa :
✓ banyak beribadah tetapi dengan cara yang tidak disyariatkan
✓ menganggap bid'ah sebagai sunnah
✓ mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan atau menghalalkan yang Allah haramkan
✓ mudah mengingkari atau menyalahkan orang lain tanpa ilmu
✓ mengajak manusia kepada sesuatu yang sebenarnya menyelisihi Al-Qur'an dan Sunnah.
✓ semangat beribadah, tetapi tanpa ilmu.

Allah تعالى berfirman :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah (ilmuilah), bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah.” (QS. Muhammad: 19)

Ayat yang mulia ini menunjukkan, bahwa ilmu itu hendaknya didahulukan sebelum beramal.

b/ Al-‘Ālim al-Fājir (orang yang berilmu, tetapi fajir/banyak berbuat maksiat/dosa)

Ini lebih mengkhawatirkan dari sisi yang lain. Dia mempunyai ilmu, mungkin pandai berbicara, mampu menyebutkan dalil dan menjelaskan kitab, tetapi ilmunya tidak membuatnya takut kepada Allah.

Boleh jadi dia mengetahui kebenaran, tetapi menyelisihinya karena :
✓ mengikuti hawa nafsu
✓ mencari dunia
✓ mengejar kedudukan
✓ mencari popularitas
✓ membela kepentingan pribadi atau kelompok
✓ atau meremehkan dosa.

Allah تعالى berfirman :

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُون

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 3)

Mengapa keduanya sangat berbahaya ?

Karena masing-masing memiliki satu sisi yang membuat banyak orang tertipu dengannya :

✓ Ahli ibadah yang bodoh : dia memiliki semangat dan amal, tetapi tidak memiliki ilmu.

✓ Orang yang berilmu tetapi fajir : memiliki ilmu, tetapi tidak memiliki ketakwaan dan amal.

Yang pertama bisa membuat manusia beramal tanpa ilmu. Yang kedua bisa membuat manusia mengetahui ilmu tetapi tidak mengamalkannya.

Adapun jalan keselamatan adalah dengan menggabungkan ilmu yang benar dengan amal yang shalih.

Allah تعالى berfirman :

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-'Ashr: 1–3).

Faedah atau pelajaran penting di sini :

1/ Jangan menilai kebenaran hanya dari banyaknya ibadah seseorang.

Orang yang tampak sangat rajin beribadah belum tentu berada di atas Sunnah. Lihatlah ilmunya dan kesesuaiannya dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

2/Jangan pula tertipu dengan kepandaian seseorang.

Seseorang bisa sangat luas ilmunya, pandai berbicara dan banyak mengutip kitab, tetapi apabila dia tidak takut kepada Allah, ilmunya dapat menjadi fitnah.

3/ Ilmu syar'i yang kita pelajari, harus melahirkan rasa takut kepada Allah.

Allah berfirman :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

4/ Seorang penuntut ilmu itu harus mencari dua perkara : ilmu dan ketakwaan.

Bukan sekadar banyak hafalan, banyak kajian, banyak kitab, atau banyak gelar.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
220000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

BAHAYANYA KOSONG DARI KEGIATAN YANG BERMANFAAT !

Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh pernah berkata :

ﻭﻣﻦ ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﺿﺮﺭﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺑﻄﺎﻟﺘﻪ ﻭﻓﺮﺍﻏﻪ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻻ ﺗﻘﻌﺪ ﻓﺎﺭﻏﺔ، ﺑﻞ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺸﻐﻠﻬﺎ ﺑﻤﺎ ﻳﻨﻔﻌﻬﺎ ﺷﻐﻠﺘﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻀﺮﻩ ﻭﻻ ﺑﺪ.

"Diantara perkara yang paling besar madhorotnya (akibat buruknya) terhadap seorang hamba adalah kosongnya dari kegiatan (yang bermanfaat) dan (mengisi) waktu luangnya.....

Karena sifat jiwa itu adalah tidak akan pernah berhenti tanpa kegiatan...

*Bahkan jika dia tidak menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang bermanfaat baginya, maka pasti dia akan menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang memadhorotkannya (yakni yang akan merugikannya) !"*

( Thoriqul Hijrotain, hal. 597)

Catatan :

1/ Dalam kitabnya yang lain, Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah juga pernah berkata :

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Dirimu itu, jika tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, PASTI akan disibukkan dengan hal-hal yang bathil."

( Al-Jawabul Kaafi liman Sa-ala 'anid Dawa', hal 156)

2/ Perkataan atau pernyataan seperti itu, adalah suatu kaidah dalam kehidupan seseorang.

Yakni, waktu atau kesempatan itu, jika tidak diisi dengan kegiatan yang positif (yang baik dan bermanfaat), pasti akan diisi dengan kegiatan yang negatif (yang jelek dan tidak bermanfaat) !

3/ Karena itu, agar kesempatan hidup kita dan waktu kita bermanfaat......

*Buatlah program dan rencana, serta target hidup yang jelas untuk beberapa waktu ke depan*....

Sehingga hari-hari kita akan selalu terisi dengan hal-hal yang baik, dan kegiatan hidup yang terarah dan terprogram .....

Manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, aturlah dengan berbagai kegiatan hidup yang bermanfaat ....

Biarkanlah mayoritas orang lalai dan menyia-nyiakan waktunya..... Tetapi jangan jadikan diri kita seperti mereka....

Ingatlah, Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam pernah bersabda :

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

"Ada dua kenikmatan, yang kebanyakan manusia tertipu (dengannya), yaitu nikmat sehat dan waktu luang/kesempatan.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)

Kita berharap, semoga Alloh ta'ala senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita, agar pandai-pandai dalam memanfaatkan waktu dan kesempatan hidup kita yang tersisa ini, untuk perkara-perkara yang bermanfaat, bagi urusan dunia maupun akhirat kita.....

Nas-alulloha At-Taufiq wa Ats-Tsabat 'alal Islam was Sunnah.....

Ditulis di Sine - Ngawi, Kamis pagi yg sejuk, 26 Robi'ul Akhir 1448 H / 8 Oktober 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

https://t.me/fawaidabuabdirrahman

Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

(Pagi ini berada di Sine Ngawi, untuk menghadiri aqad pernikahan dan walimah pernikahan keponakan kami, semoga dimudahkan dan dilancarkan oleh Alloh ta'ala)

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
229000
Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah .....

Surabaya, Selasa pagi yg sejuk, 24 Robi'ul Akhir 1448 H / 6 Oktober 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

https://t.me/fawaidabuabdirrahman

Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
276000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

WASPADALAH, API HASAD (IRI DENGKI) ITU SULIT PADAMNYA !

قال الإمام محمد بن سيرين رحمه الله تعالى :

الحسد من أخلاق اللئام، وتركه من أفعال الكرام، ولكل حريق مطفيء، ونار الحسد لا تطفأ

(روضة العقلاء ونزهة الفضلاء، ص/97)

Al-Imam Muhammad bin Sirin rohimahulloh ta'ala pernah berkata :

"Hasad (iri dengki) itu adalah termasuk akhlak orang-orang yang tercela.

Dan meninggalkannya termasuk perbuatan (akhlaknya) orang-orang yang mulia.

Setiap yang terbakar itu mempunyai pemadam (yakni ada yang bisa memadamkannya), sedangkan API HASAD tidak akan bisa padam !"

( Roudhotul Uqola' wa Nuzhatul Fudhola', hal. 97)

قال الإمام أبو حاتم رحمه الله تعالى :

العاقل يكون على إماتة الحسد بما قدر عليه أحرص منه على تربيته، ولا يجد لإماتته دواء أنفع من البعاد

(روضة العقلاء ونزهة الفضلاء، ص/98)

Al-Imam Al-Hafidz Abu Hatim Muhammad bin Hibban Al-Busty rohimahulloh juga berkata :

"Orang yang berakal/cerdas itu selalu berusaha untuk mematikan rasa dengki yang ada pada dirinya, daripada memeliharanya.

Sementara itu, tidak akan didapati obat yg lebih bermanfaat/manjur untuk mematikan atau mengobati rasa dengki itu, selain dari menjauhi/menghindari rasa dengki itu sendiri !"

( Roudhotul Uqola' wa Nuzhatul Fudhola', hal. 98)

Catatan :

1/ Tahukah anda, apa yg dimaksud dengan Hasad itu ?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh pernah menjelaskan tentang pengertian ringkasnya adalah sebagai berikut :

“Hasad adalah kebencian seseorang terhadap nikmat yang diberikan Alloh kepada orang lain.” ( Kitaabul ‘Ilmi, hal. 71)

Ya, hasad itu bukan hanya sekadar mengharapkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain.

Bahkan, Hasad itu adalah ketidaksenangan seseorang terhadap nikmat yang Alloh berikan kepada selain dirinya.

Itulah hasad, baik ia mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang lain ataupun tetap ada pada mereka.

Semata-mata benci/tidak suka adanya nikmat yg Alloh berikan pada orang lain, baik dalam hal harta, ilmu/kepandaian, prestasi, ketampanan atau kecantikan dan sebagainya, maka itulah Hasad ! Wallohu a'lam...

2/ Ketahuilah pula, bahwa Hasad itu akan menjangkiti hampir seluruh manusia, kecuali orang-orang yg dirahmati Alloh ta'ala, agar dijauhkan darinya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh juga pernah menjelaskan :

“Maksudnya yaitu bahwasanya hasad itu adalah penyakit jiwa, dan dia adalah penyakit yang menguasai, dan tidak ada yang selamat darinya kecuali hanya segelintir orang saja. Karena itulah dikatakan : “Tidak ada jasad yang bisa selamat dari hasad.

Akan tetapi orang yang tercela akan menampakkannya, sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya.” ( Majmuu’ Al Fatawaa, 10/125-126)

3/ Mungkin ada yang bertanya : Mengapa hasad itu sulit dihindari ?

Hal itu dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rohimahulloh sebagai berikut :

“Hasad itu tertanam di dalam tabi’at manusia, yaitu manusia akan membenci jika ada seseorang yang sejenis dengannya (yakni yang sama jenis profesinya), yang mengunggulinya dalam suatu keutamaan.” ( Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, hal. 217)

Meskipun demikian, Hasad tetap saja sebagai perbuatan tercela, yang wajib bagi kita semua untuk menjauhkan diri darinya.

Alloh ta'ala berfirman :

وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبُوا۟ ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَ ۚ وَسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS An-Nisa' : 32)

Demikianlah....

Semoga Alloh subhanahu wa ta'ala menjauhkan kita dari semua jenis akhlak yg rendah dan tercela, diantaranya seperti Hasad (iri dengki) ini !

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
244000
Kemarin aku belum ada. Kemudian Allah menciptakanku dari sesuatu yang hina. Hari ini aku hidup karena nikmat-Nya. Besok aku akan menjadi mayit yang tidak mampu melakukan apa-apa. Setelah itu aku akan dibangkitkan dan berdiri di hadapan Allah, untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalanku.

Maka yang layak dibanggakan bukanlah siapa kita di hadapan manusia, tetapi bagaimana keadaan kita di hadapan Allah nanti.

Wallohu a'lamu bis showab .....

Demikianlah nasehat yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat untuk kita semuanya ......

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah .....

Surabaya, Ahad pagi yg sejuk, 22 Robi'ul Akhir 1448 H / 4 September 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

https://t.me/fawaidabuabdirrahman

Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
159000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

MENGAPA HARUS BERSIKAP SOMBONG ?

قال علي بن حسين رحمه الله :

( عجبت للمتكبر الفخور الذي كان بالأمس نطفة ثم هو غدا جيفة )

صفة الصفوة (٢/٩٥) للإمام ابن الجوزي رحمه الله

Ali bin Husain rohimahulloh pernah berkata :

“Aku heran terhadap orang yang sombong lagi suka membanggakan diri, padahal kemarin dia itu hanyalah setetes air mani, kemudian besok dia akan menjadi bangkai.”

Shifatus Shofwah (2/95), karya Al-Imam Ibnul Jauzi rohimahulloh.

Catatan :

✓ Perkataan Ali bin Husain rohimahulloh ini merupakan teguran keras terhadap kesombongan dan kebanggaan terhadap diri sendiri.

Manusia hendaknya melihat asal dan akhirnya :

✓ Asalnya : hanya nuthfah (setetes air mani) yang hina dan lemah.

✓ Sekarang : hidup di dunia sebagai manusia yang membutuhkan makan, minum, tidur, dan pertolongan Alloh.

✓ Akhirnya : akan menjadi mayit/jasad yang tidak berdaya, kemudian dikuburkan dan kembali menjadi tanah.

Lalu, pantaskah bagi seseorang itu berbuat takabbur (merasa sombong dan besar), merasa lebih tinggi daripada orang lain, merendahkan manusia, membanggakan harta, nasab, jabatan, ilmu, rupa atau kedudukannya ?

Allah تعالى berfirman :

قُتِلَ الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ ۝ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۝ مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ
“Binasalah manusia; alangkah kufurnya dia! Dari apakah Dia menciptakannya? Dari setetes mani. Dia menciptakannya lalu menentukannya.” (QS. ‘Abasa: 17–19)

Dalil bahwa manusia akan kembali menjadi tanah, Allah سبحانه وتعالى berfirman :

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

“Dari tanah itulah Kami menciptakan kalian, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kalian, dan darinya Kami akan mengeluarkan kalian sekali lagi.” (QS. Thaha: 55).

Ini mengingatkan manusia, bahwa kehidupan dunia bukan tempat untuk menyombongkan diri, karena semuanya akan berakhir dengan kematian.

Dalil tentang larangan sombong, Nabi ﷺ bersabda :

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji dzarrah.”

Kemudian para sahabat bertanya tentang seseorang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus, apakah ini termasuk kesombongan ? Nabi ﷺ menjelaskan :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Jadi, takabbur/sombong itu bukan sekadar memakai pakaian bagus atau memiliki harta. Kesombongan yang tercela adalah ketika seseorang menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Faedah yang bisa diambil :

1/ Mengingat asal penciptaan kita, akan membantu kita untuk menghancurkan kesombongan.

Orang yang mengetahui bahwa dirinya dahulu hanyalah berasal dari nuthfah (setetes air mani yg hina yg bercampur), maka dia tidak pantas membanggakan dirinya.

2/ Mengingat kematian, merupakan obat bagi penyakit hati.

Jabatan, harta, kecantikan, kekuatan dan popularitas akan ditinggalkan ketika seseorang masuk ke dalam kubur.

3/ Kemuliaan manusia bukan karena nasab, harta atau kedudukan, tetapi ada pada ketakwaannya kepada Alloh.

Allah berfirman :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

4/ Ilmu yang kita miliki pun tidak boleh menjadi sebab kesombongan.

Semakin seseorang mengetahui kebesaran Allah dan kelemahan dirinya, semestinya semakin bertawadhu'.

5/ Mengingat akhir kehidupan, membuat seseorang tidak mudah merendahkan orang lain.

Orang yang hari ini dianggap rendah oleh manusia, bisa jadi lebih mulia di sisi Allah karena ketakwaannya.

6/ Tawadhu' (rendah hati), bukan berarti merendahkan diri secara hina, tetapi menempatkan diri sesuai kedudukannya sebagai hamba Allah, menerima kebenaran dan tidak meremehkan orang lain.

Intinya :

Perkataan Ali bin Husain rohimahulloh tersebut di atas seakan-akan mengajak kita bertanya kepada diri sendiri :

“Aku ini siapa, sehingga harus berbuat sombong ?”

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
168000
Demikianlah nasehat ini, semoga bermanfaat untuk kita semuanya ......

Surabaya, Sabtu pagi yg sejuk, 21 Robi'ul Akhir 1448 H / 3 Oktober 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

https://t.me/fawaidabuabdirrahman

Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
244000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

SIFAT-SIFATNYA ORANG YANG BODOH

قال محمد بن الحسن رحمه الله :

( من صفة الجاهل: الجدل، والمراء، والمغالبة، نعوذ بالله ممن هذا مراده )

أخلاق العلماء (ص/٦٣) للإمام الآجري رحمه الله.

“Di antara sifatnya orang yang bodoh itu adalah suka berdebat, suka berbantah-bantahan, dan berusaha mengalahkan lawan. Kita berlindung kepada Alloh dari orang yang seperti itu tujuannya.”

📚 Akhlaqul ‘Ulama (hal. 63), karya Al-Imam al-Ajurri rohimahulloh

Catatan :

✓ Perkataan ini bukan berarti bahwa setiap bentuk diskusi atau perdebatan itu tercela.

✓ Yang dicela/tercela adalah perdebatan yang didorong oleh hawa nafsu, bukan untuk mencari kebenaran.

Ada tiga sifat yang disebutkan :

الجدل (jadal)

"perdebatan"

Yakni, seseorang yang banyak berdebat dan mempertahankan pendapatnya. Jika dilakukan tanpa ilmu atau tanpa tujuan mencari kebenaran, maka menjadi sifat tercela.

المراء (miro')

"berbantah-bantahan."

Yaitu memperpanjang perdebatan dengan membantah lawan, bahkan terkadang perkara yang sudah jelas masih tetap diperdebatkan, hanya karena tidak mau menerima kebenaran.

المغالبة (mugholabah)

"ingin mengalahkan."

Ini yang sangat berbahaya, tujuan pembicaraan bukan lagi untuk mencari kebenaran, tetapi ingin menang, ingin lawan kalah, ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat atau lebih berilmu daripada yang lainnya.

Maka seseorang bisa saja berbicara tentang agama, membawa ayat dan hadits, tetapi apabila tujuan akhirnya adalah “saya harus menang dalam perdebatan”, maka penyakitnya bukan lagi sekadar masalah ilmu, tetapi masalah niat dan hati.

Allah عز وجل berfirman :

مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا

“Tidak ada yang memperdebatkan ayat-ayat Allah kecuali orang-orang yang kafir.” (QS. Ghofir : 4)

Dan Nabi ﷺ juga pernah bersabda :

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan miraa' (perdebatan), meskipun dia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud no. 4800, sanadnya shohih)

Hadits ini menunjukkan, bahwa meninggalkan perdebatan yang tidak bermanfaat adalah akhlak yang agung, bahkan seseorang dianjurkan meninggalkannya meskipun dirinya benar.

Beberapa faedah yang bisa kita ambil :

1/ Ilmu itu seharusnya membawa kepada ketundukan, bukan kesombongan.

Semakin seseorang mengetahui kebenaran, seharusnya semakin mudah baginya untuk mengatakan, “Saya salah, yang benar adalah dalil.”

2/ Tidak setiap orang yang banyak bicara berarti berilmu.

Banyaknya bantahan, argumentasi, dan perdebatan, tidak otomatis menunjukkan kuatnya ilmu. Bisa jadi justru menunjukkan penyakit dalam hatinya.

3/ Bedakanlah antara mencari kebenaran dan mencari kemenangan.

Orang yang mencari kebenaran akan berkata :
“Kalau dalilnya benar, saya akan menerimanya.”

Sedangkan orang yang mencari kemenangan, dia berpikir : “Bagaimana caranya agar pendapat saya tetap menang ?”

4/ Berdebat dengan cara yang baik, tetap memiliki tempat dalam syariat.

Allah berfirman :

وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan bantahlah mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Jadi, perdebatan yang tercela itu adalah jadal/miroo' (berdebat atau berbantah-bantahan) yang dilandasi hawa nafsu, kebodohan, kesombongan, atau keinginan mengalahkan orang lain, bukan ingin melakukan dialog secara ilmiah.

5/ Seorang penuntut ilmu itu hendaknya menjaga lisannya.

Tidak semua kesalahan harus dibantah, tidak semua persoalan harus diperdebatkan, dan tidak semua orang harus dilayani dalam perdebatan.

Inti nasihat ini :

Perkataan Muhammad bin al-Hasan رحمه الله ini mengajarkan :

✓ “Jangan jadikan ilmu sebagai alat untuk memenangkan perdebatan."

/ "Jadikanlah ilmu sebagai jalan untuk mengetahui kebenaran dan tunduk kepadanya.”

✓ Karena orang berilmu yang ikhlas itu, ketika dia menemukan kebenaran, maka dia akan segera mengikutinya, meskipun kebenaran itu datang dari orang yang sebelumnya dia bantah.

Wallohu a'lamu bis showab ......

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
228000
6/ Setelah mempelajari satu ilmu, hendaknya bertanya kepada diri sendiri : “Apa yang harus saya amalkan dari ilmu ini?”

7/ Di antara tanda ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menjadikan kita semakin takut kepada Allah, semakin tawadhu', semakin memperbaiki amal, dan semakin menjauhi maksiat.

Ringkasnya :

✓ Ilmu adalah nikmat apabila melahirkan amal.

✓ Namun ilmu dapat menjadi beban, apabila hanya diketahui, diajarkan, dan dibicarakan tanpa diamalkan.

✓ Ini juga sangat cocok dijadikan kaidah bagi penuntut ilmu :

العِلْمُ يُنَادِي العَمَلَ، فَإِنْ أَجَابَهُ وَإِلَّا ارْتَحَلَ

"Ilmu itu menyeru/mengajak kepada amal. Jika seruan itu dijawab dengan amal, dia (ilmu itu) akan menetap. Tetapi jika tidak, maka dia pergi."

Demikianlah pembahasan yang ringkas ini, semoga bisa menjadi nasehat dan tambahan ilmu yang bermanfaat untuk kita semuanya ......

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah .....

Surabaya, Kamis pagi yg sejuk, 19 Robi'ul Akhir 1448 H / ..... Oktober 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

https://t.me/fawaidabuabdirrahman

Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
180000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

AKIBAT DAN DAMPAK BURUK ILMU YANG TIDAK DIAMALKAN


📂‏قال الإمام الخطيب البغدادي رحمه الله :

نعوذ بالله من علم كان كلاً و أورث ذلًا، وصار في رقبة صاحبه غُلًا.

📓 اقتضاء العلم العمل ١٥

Al-Imam Al-Khotib Al-Baghdadi rohimahulloh pernah berkata :

نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ كَانَ كَلًّا وَأَوْرَثَ ذُلًّا، وَصَارَ فِي رَقَبَةِ صَاحِبِهِ غُلًّا

“Kita berlindung kepada Alloh dari ilmu yang (bisa) menjadi beban, mewariskan kehinaan, dan menjadi belenggu pada leher pemiliknya.”

( Iqtidho'ul ‘Ilmi al-‘Amal (hal. 15), karya Al-Imam Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Tsabit, yang lebih dikenal dengan nama Al-Imam Al-Khotib Al-Baghdadi rohimahulloh)

Catatan :

*a/ Perkataan beliau : “عِلْمٍ كَانَ كَلًّا”, ilmu yang menjadi beban.*

Kata "kallan", bermakna beban yang berat dan menyusahkan.

Maksudnya adalah, seseorang mempunyai banyak ilmu, hafalan, dan pengetahuan agama, tetapi ilmu tersebut tidak diamalkan. Akhirnya, ilmu yang seharusnya menjadi sebab keselamatan baginya, justru menjadi beban atas dirinya.

Semakin banyak yang dia ketahui, semakin banyak pula hujjah yang akan tegak atas dirinya, apabila dia tidak mengamalkan ilmu tersebut.

Misalnya :
✓ mengetahui kewajiban menjaga lisan, tetapi tetap suka ghibah;
✓ mengetahui wajibnya shalat, tetapi meremehkannya;
✓ mengetahui keutamaan ikhlas, tetapi beramal karena mengharapkan pujian manusia;
✓ mengetahui larangan suatu maksiat, tetapi tetap melakukannya.

*b/ Perkataan beliau : “وَأَوْرَثَ ذُلًّا” , mewariskan kehinaan.*

Artinya, ilmu yang tidak diamalkan dapat menyebabkan kehinaan, karena kemuliaan seorang hamba bukan sekadar dengan banyaknya pengetahuan, tetapi dengan iman, takwa dan amal shalih.

Allah berfirman :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Jadi, ilmu yang benar, seharusnya melahirkan takwa dan ketundukan kepada Alloh.

c/ Perkataan beliau : “وَصَارَ فِي رَقَبَةِ صَاحِبِهِ غُلًّا” , menjadi belenggu pada lehernya.

Ghullan, artinya adalah belenggu yang mengikat leher.
Ini merupakan gambaran yang sangat kuat, bahwa ilmu yang tidak diamalkan, akan dapat berubah menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya pada hari kiamat.

Sebab dia bukan tidak tahu, tetapi sudah mengetahui kebenaran lalu tidak mengikutinya.

Allah berfirman :

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 3)

d/ Dalil yang menunjukkan, bahwa ilmu itu harus diamalkan, diantaranya adalah firman Alloh ta'ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan ? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah, bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)

Dan Nabi ﷺ juga pernah mengajarkan doa seperti ini :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Muslim)

Ini menunjukkan, bahwa tidak semua ilmu itu otomatis menjadi ilmu yang bermanfaat.

Ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang membuahkan iman, rasa takut kepada Alloh, amal shalih, dan perbaikan diri.

Faedah penting :

1/ Bahwa tujuan utama kita menuntut ilmu adalah bukan sekadar untuk menambah hafalan, tetapi untuk diamalkan.

2/ Semakin banyak ilmu, semakin besar tanggung jawab untuk mengamalkannya.

3/ Ilmu tanpa amal, dapat menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya, bukan hujjah yang menyelamatkannya.

4/ Jangan sibuk mencari ilmu yang banyak, sementara kewajiban yang sudah diketahui justru ditinggalkan.

5/ Ilmu yang sedikit tetapi diamalkan, lebih bermanfaat bagi seseorang daripada ilmu yang banyak, tetapi hanya berada di lisan dan hafalan.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
119000
3/ Ketenangan hati tidak selalu diperoleh dengan banyaknya dunia, tetapi dengan hubungan yang baik dengan Allah.

4/ Maksiat dapat melahirkan kegelisahan dan keterasingan hati.

5/ Musibah tidak selalu merupakan keburukan bagi seorang mukmin. Jika musibah itu membuatnya kembali kepada Allah, maka di dalamnya terdapat rahmat dan kebaikan.

6/ Karena itulah, ketika mendapat musibah, seorang mukmin tidak hanya berkata : “Mengapa ini terjadi kepadaku ?” Tetapi hendaknya dia bertanya : “Apa yang Allah kehendaki agar aku pelajari dan perbaiki melalui musibah ini ?”

7/ Yang paling dikhawatirkan itu bukanlah semata-mata datangnya musibah, tetapi musibah yang membuat seseorang semakin jauh dari Allah.

Ringkasnya :

✓ Takwa itu melahirkan kemuliaan,
✓ ketaatan itu melahirkan ‘izzah (kehormatan dan kekuatan)
✓ ihsan (berbuat baik) itu melahirkan ketenteraman,
✓ maksiat melahirkan kegelisahan,
✓ dan musibah yang mendekatkan kita kepada Allah, pada hakikatnya itu mengandung nikmat yang besar.

Wallohu a'lamu bis showab ......

Demikianlah nasehat ini, semoga bermanfaat untuk kita semuanya .....

Waffaqonaallohu wa iyyaakum ......

Surabaya, Rabu pagi yg sejuk, 18 Robi'ul Akhir 1448 H / 30 September 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

https://t.me/fawaidabuabdirrahman

Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
118000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

KAROMAH DAN IZZAH (KEMULIAAN) YANG SEBENARNYA.

📂يقول ابن الجوزي -رحمه الله- :

‏الكرامةُ كرامةُ التَّقوى، ‏والعِزُّ عِزُّ الطَّاعة، ‏والأُنسُ أُنس الإحسان، ‏والوحشةُ وحشةُ الإساءة،
‏وكلُّ مصيبةٍ، لا يكون الله عنك فيها مُعرضًا، فهي نعمةٌ.

📓التذكرة في الوعظ (١ / ١٨).

Al-Imam Ibnul Jauzi rohimahulloh pernah berkata :

“Karomah (kemuliaan) yang sebenarnya adalah kemuliaan karena ketakwaan.

Izzah (kehormatan dan kekuatan) yang sebenarnya adalah kehormatan karena ketaatan.

Ketenangan dan rasa tenteram yang sebenarnya adalah ketenteraman karena berbuat ihsan.

Sedangkan kesepian dan kegelisahan yang sebenarnya adalah kegelisahan karena perbuatan buruk.

Dan setiap musibah yang Allah tidak berpaling darimu ketika menghadapinya, maka musibah itu adalah sebuah nikmat.”

📓 At-Tadzkirah fil-Wa‘zh (1/18).

Catatan :

1. الكرامة كرامة التقوى —

*"Karomah (kemuliaan) itu adalah dengan ketakwaan."*

Ukuran kemuliaan seorang hamba itu bukanlah banyaknya harta, jabatan, keturunan, atau kedudukan di hadapan manusia. Kemuliaan yang hakiki itu adalah takwa kepada Allah.

Allah berfirman :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

2. والعز عز الطاعة —

*"Izzah (Kehormatan dan kekuatan) yang sebenarnya itu adalah dengan (melakukan) ketaatan."*

Seorang hamba akan mendapatkan ‘izzah (kemuliaan, kehormatan dan kekuatan) dengan tunduk kepada Allah.

Jangan mencari kemuliaan dengan bermaksiat kepada Allah, demi mendapatkan kedudukan di hadapan manusia.

Allah berfirman :

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

“Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Munafiqun: 8)

3. والأنس أنس الإحسان —

*"Ketenteraman adalah dengan berbuat ihsan."*

أنس (uns)

Artinya adalah rasa tenteram, nyaman dan dekatnya hati.

Al-Imam Ibnul Jauzi rohimahulloh mengingatkan, bahwa ketenteraman hati yang hakiki adalah diperoleh dengan ihsan, yaitu memperbaiki hubungan dengan Allah dan berbuat baik dalam ketaatan.

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Semakin baik seorang hamba dalam beribadah kepada Allah, semakin besar pula ketenteraman yang Allah karuniakan kepada hatinya.

4. والوحشة وحشة الإساءة —

*"Dan kegelisahan yang sebenarnya adalah akibat keburukan."*

Sebaliknya, dosa dan maksiat dapat menyebabkan wahsyah, yaitu hati yang merasa gelisah, sempit, tidak nyaman dan jauh dari kebaikan.

Maka terkadang seseorang berada di tengah banyak orang, memiliki harta dan berbagai kenikmatan, tetapi hatinya terasa sepi dan tidak tenteram.

Sebagian ulama salaf mengatakan, bahwa di antara akibat dosa adalah kegelisahan yang muncul dalam hati.

5. وكل مصيبة لا يكون الله عنك فيها معرضًا فهي نعمة

*“Dan setiap musibah yang Allah tidak berpaling darimu ketika menghadapinya, maka ia adalah nikmat.”*

Maksudnya, musibah pada diri seseorang itu memang menyakitkan, tetapi apabila musibah tersebut menjadikan seorang hamba semakin dekat kepada Allah, bersabar, berdoa, bertaubat dan bergantung kepada-Nya, maka musibah itu pada hakikatnya mengandung nikmat yang besar.

Misalnya seseorang kehilangan harta. Dia bersedih, tetapi musibah tersebut membuatnya :
✓ lebih banyak berdoa,
✓ meninggalkan kesombongan,
✓ menyadari bahwa harta hanyalah titipan,
bersabar,
✓ berharap pahala dari Allah.

Maka musibahnya itu berubah menjadi sebab datangnya kebaikan.

Allah berfirman:
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Faedah penting dari nasehat tersebut :

1/ Kemuliaan itu tidak diukur dengan penampilan dunia, tetapi dengan takwa kepada Alloh ta'ala.

2/ Melakukan amal-amal itu bukanlah suatu kehinaan, bahkan justru sumber kemuliaan seorang mukmin.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
165000
Oleh karena itu, hendaknya kita sering merenungkan nikmat Allah, memperbanyak mengucapkan الحمد لله, tidak kufur nikmat, dan menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada Alloh.

Insya Alloh dengan ini, nikmat Alloh ta'ala sekecil apapun, akan terasa sebagai nikmat yang sangat besar.

b/ Semakin seseorang mengenal besarnya nikmat Allah, semakin besar pula rasa syukurnya. Dan semakin besar rasa syukurnya, semakin dia takut menggunakan nikmat Alloh untuk bermaksiat/berbuat dosa.

Wallohu a'lamu bis showab .....

Demikianlah pembahasan yang ringkas ini, semoga bisa menjadi nasehat dan tambahan ilmu yang bermanfaat untuk kita semuanya ......

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah .....

Surabaya, Selasa pagi yg sejuk, 17 Robi'ul Akhir 1448 H / 29 September 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

https://t.me/fawaidabuabdirrahman

Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
361000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

INGATLAH DAN PIKIRKANLAH SELALU NIKMAT ALLOH !

📂 قال الشيخ أحمد النجمي رحمه الله:

أيها الإخوة، لنفكّر في النعم التي نحن نتمتع بها، إنها نعمٌ عظيمة، أمن، ورغد عيش، وسعة رزق، وأموال، وحرية العبادة، وشيء فوق ما نتصوّر، إنها نعم يغبطنا عليها جميع الناس.

📓 فتح رب العبيد صـ ١٢٠

As-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi rohimahulloh pernah berkata :

“Wahai saudara-saudaraku, marilah kita memikirkan berbagai nikmat yang kita rasakan.

Sesungguhnya nikmat-nikmat tersebut adalah nikmat yang sangat besar: keamanan, kehidupan yang serba berkecukupan, keluasan rezeki, harta, kebebasan untuk beribadah, dan berbagai nikmat yang jauh melampaui apa yang dapat kita bayangkan.

Sesungguhnya itu adalah nikmat-nikmat yang membuat seluruh manusia merasa iri (dalam arti ingin mendapatkan nikmat yang semisal).”

📓 Fathu Robbil ‘Abid, hal. 120.

Makna dan faedah nasehat tersebut :

1/ Kita diperintahkan untuk menyadari besarnya nikmat-nikmat Alloh.

Sering kali seseorang baru menyadari besarnya nikmat, setelah nikmat tersebut hilang. Padahal setiap hari kita menikmati banyak sekali karunia Allah : nikmat kesehatan, keamanan, makanan, tempat tinggal, keluarga, harta, dan kesempatan beribadah, dan lain-lain.

Allah berfirman :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)

2/ Keamanan (rasa aman) juga merupakan nikmat yang sangat besar.

Dengan adanya rasa aman, seseorang dapat menikmati hartanya, berdagang, belajar, bepergian, dan beribadah karena adanya keamanan. Karena itu, keamanan jangan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Allah berfirman :

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

“Yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar, dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Quraisy: 4)

3/ Nikmat terbesar adalah nikmat agama dan kesempatan untuk beribadah.

Di antara kalimat beliau yang sangat penting adalah :

وحرية العبادة

“kebebasan untuk beribadah.”

Ya, seseorang itu hendaknya tidak hanya melihat nikmat yang berupa materi saja, seperti nikmat rumah, kendaraan, uang, dan makanan.

Tetapi ada nikmat yang sesungguhnya dan yang paling bermanfaat, yaitu nikmatnya beribadah kepada Alloh ta'ala.

*Bisa beribadah kepada Alloh, belajar Al-Qur'an dan Sunnah, pergi ke masjid, sholat dengan aman, dan mendidik anak di atas agama, merupakan nikmat yang sangat besar.*

4/ Syukur bukan hanya dengan ucapan.

Mengatakan الحمد لله adalah bagian dari syukur. Namun syukur itu juga mencakup : mengakui nikmat dalam hati dan menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada Allah.

Allah berfirman :

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا

“Beramallah wahai keluarga Dawud, sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba': 13)

Jadi, orang yang diberi harta, hendaknya dia bersyukur, dengan cara menggunakan hartanya dalam perkara yang Allah cintai.

Orang yang diberi kesehatan, menggunakannya untuk melakukan amal ketaatan. Dan orang yang diberi ilmu, hendaknya dia mengajarkannya kepada orang lain. Demikianlah seterusnya dengan nikmat-nikmat yang lainnya.

5/ Jangan terlalu melihat apa yang dimiliki orang lain.

Jika seseorang selalu melihat rumah orang lain, kendaraan orang lain, harta orang lain, atau kehidupan orang lain, dia akan mudah merasa kurang dan melupakan nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

Nabi ﷺ bersabda :

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kesimpulannya :

a/ Nikmat yang besar, sering kali terasa kecil karena kita telah terbiasa dengannya.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
305000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

ORANG YANG PALING BESAR PENYESALANNYA

قال بعض السلف :

( أشد الناس ندامة عند الموت عالم مفرط )

(مختصر منهاج القاسدين، ٣٥)

Sebagian ulama Salaf ada yang berkata :

“Orang yang paling besar penyesalannya ketika kematian datang adalah seorang yang berilmu tetapi menyia-nyiakan ilmunya.”

( Mukhtashor Minhājul Qoshidīn, hal. 35)

Catatan :

✓ Yang dimaksud عالم مفرط (orang berilmu yang meremehkan/menyia-nyiakan) adalah orang yang telah mengetahui ilmu agama dan kebenaran, tetapi tidak bersungguh-sungguh mengamalkannya.

Ilmunya ada, tetapi amalnya kurang. Dia mengetahui kewajiban, larangan, dan jalan menuju keselamatan, namun menunda atau meremehkannya.

Penyesalannya saat kematian sangat besar, karena ketika itu kesempatan beramal telah berakhir, sementara dia mengetahui bahwa dirinya sebenarnya memiliki kesempatan untuk berbuat baik.

Faedah penting :

1/ Ilmu adalah hujjah bagi seseorang, sehingga semakin besar ilmu yang tidak diamalkan, semakin besar pula bahayanya.

2/ Tujuan ilmu bukan sekadar mengetahui, tetapi diamalkan dan diwujudkan dalam amal ketaatan.

3/ Jangan menunda amal dengan mengatakan : “Nanti kalau sudah tua saya akan berubah.”

4/ Orang yang berilmu itu hendaknya takut terhadap penyakit yang berupa : mengetahui kebenaran, tetapi tidak mengamalkannya.

5/ Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang melahirkan khosyah (rasa takut kepada Alloh), amal sholih, dan perbaikan diri.

Alloh Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman ! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shaff: 2–3)

Dan Nabi ﷺ bersabda :

وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Al-Qur'an itu menjadi hujjah yang membelamu, atau menjadi hujjah yang memberatkanmu.”
(HR. Muslim no. 223)

Maka ilmu yang benar itu hendaknya segera diikuti dengan amal.

Jangan sampai seseorang banyak mengetahui nasihat tentang shalat, tauhid, ikhlas, taubat, dan akhirat, tetapi dirinya sendiri terus menunda untuk mengamalkannya.

Karena ketika kematian datang, penyesalan tidak lagi berguna.

Ringkasnya :

“Ilmu tanpa amal, dapat menjadi sebab penyesalan."

"Ilmu yang diamalkan, menjadi sebab keselamatan, insya Allah.”

Demikianlah, semoga pembahasan ringkas ini bisa menjadi nasehat dan tambahan ilmu yang bermanfaat untuk kita semuanya ....

Waffaqonallohu wa iyyaakum .....

Surabaya, Senin pagi yg sejuk, 16 Robi'ul Akhir 1448 H / 28 September 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

https://t.me/fawaidabuabdirrahman

Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
294000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

MENGHILANGKAN KEGELISAHAN DI DALAM HATI

Al-Imam Ibnu Hazm rohimahulloh pernah berkata :

“Aku tidak menemukan jalan untuk mengusir kegelisahan dari diriku, kecuali dengan menghadap kepada Alloh, melalui amal untuk kehidupan akhirat.”

📚 Al-Akhlaq wa as-Siyar, hal. 88.

Catatan :

✓ Di dalam nasehatnya ini, Al-Imam Ibnu Hazm rohimahulloh sedang menunjukkan sebuah obat hati yang sangat penting ketika seseorang diliputi kegelisahan dan kesedihan, yaitu dengan mengarahkan hati kepada Alloh dan memperbanyak amal yang bermanfaat untuk akhirat.

✓ Bukan berarti setiap masalah dunia harus ditinggalkan atau tidak boleh dicari solusinya. Namun, ketika hati terlalu larut memikirkan urusan dunia, salah satu cara terbesar untuk menenangkan hati adalah mengembalikannya kepada Allah, yaitu dengan :

✓ memperbaiki tauhid dan keikhlasan,
✓ memperbanyak shalat,
✓ membaca dan mentadabburi Al-Qur'an,
✓ berdzikir dan berdoa,
✓ bertaubat dari dosa,
✓ bersabar atas musibah,
✓ memperbanyak amal shalih,
✓ dan mengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal.

Dalil yang menguatkan hal itu, adalah firman Alloh Ta'ala :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28)

Allah ta'ala juga berfirman :

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Nabi ﷺ juga bersabda :

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. At-Tirmidzi)

Faedah ringkas :

1/ Kegelisahan hati tidak selalu diselesaikan dengan perubahan keadaan, tetapi dengan memperbaiki hubungan kita dengan Allah.

2/ Menghadap kepada Allah itu adalah sumber ketenangan hati. Ketika hati sibuk dengan ketaatan, dia tidak terlalu dikuasai oleh kekhawatiran terhadap perkara dunia.

3/ Amal untuk akhirat membuat seseorang memiliki tujuan yang lebih tinggi. Masalah dunia menjadi terasa kecil ketika dibandingkan dengan keselamatan di akhirat.

4/ Jangan menjadikan dunia sebagai tujuan utama.

Dunia boleh dicari, tetapi hendaknya menjadi sarana untuk mendapatkan ridha Allah dan bekal menuju akhirat.

5/ Ketika sedang ditimpa kesusahan, jangan hanya sibuk memikirkan masalahnya, tetapi sibukkan pula diri dengan ibadah kepada Alloh.

6/ Berusaha mencari solusi tetap dilakukan, tetapi hati tetap bergantung kepada Allah.

Karena ketenangan yang hakiki itu ada pada hati yang dekat dengan Allah, bukan semata-mata pada banyaknya harta, kenyamanan, atau hilangnya seluruh masalah.

Inti nasihat ini adalah :

✓ Jika hati sedang gelisah, jangan hanya bertanya: “Bagaimana agar masalahku selesai?” Tetapi tanyakan juga: “Apa yang bisa aku lakukan, agar aku semakin dekat kepada Allah?”

✓ Sebab terkadang Allah belum menghilangkan masalahnya, tetapi Allah memberikan ketenangan kepada hati dalam menghadapi masalah tersebut. Dan ketenangan seperti inilah yang sangat berharga.

Wallohu a'lamu bis showab ......

Demikianlah pembahasan yang ringkas ini, semoga bermanfaat untuk kita semuanya .....

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah ....

Surabaya, Jum'at pagi yg sejuk, 13 Robi'ul Akhir 1448 H / 25 September 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

https://t.me/fawaidabuabdirrahman

Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
335000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

SEMUA YANG KAMU MILIKI, PASTI AKAN LENYAP !

Saudaraku kaum Muslimin rohimakumulloh....

Perhatikan dan renungkanlah firman Alloh ta'ala berikut ini :

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓا۟ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

"Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Alloh adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS An-Nahl : 96)

Catatan :

1/ Tentang Tafsir (penjelasan dan pengertian) ayat yang mulia ini, dijelaskan oleh Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Katsir rohimahulloh dalam tafsirnya sebagai berikut :

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ}

"Apa yang ada di sisi kalian akan lenyap." (An-Nahl : 96)

Yaitu : "akan habis dan lenyap, karena sesungguhnya hal itu mempunyai batas waktu yang tertentu dan ada masa habisnya."

{وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ}

"Dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal." (An-Nahl: 96)

Yakni : "Pahala Alloh untuk kalian di surga nanti itu adalah kekal, tiada habis-habisnya, dan tiada putus-putusnya. Karena sesungguhnya pahala di surga itu bersifat kekal, tidak berubah, dan tidak akan lenyap."

Alloh ta'ala berfirman :

{وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

"Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan." (QS An-Nahl: 96)

Yakni : "Ungkapan sumpah dari Alloh yang diperkuat dengan memakai huruf lam, hal itu mengandung makna, bahwa sesungguhnya Dia benar-benar akan memberikan balasan kepada orang-orang yang penyabar, dengan pahala yang lebih baik daripada amal perbuatan mereka itu sendiri. Selain itu, Alloh memaafkan keburukan-keburukan amal perbuatan mereka."

( Tafsir Ibnu Katsir, 2/790)

2/ Kemudian juga, dijelaskan pula dalam Tafsir Al-Muyassar tentang ayat tesebut di atas adalah sebagai berikut :

"Apa yang ada di sisi kalian berupa harta benda dunia ini adalah akan lenyap.

Sedangkan apa yang ada di sisi Alloh bagi kalian berupa rizki, dan pahala, tidak akan pernah sirna.

Dan sungguh Kami akan memberikan balasan pahala bagi orang-orang yang mau bersusah payah mengemban beban-beban taklif (yakni beban syari'at agama, yang berupa perintah dan larangan, dan bersabar di atasnya, pent.), dengan balasan yang lebih baik dari amal perbuatan mereka itu sendiri.

Kami memberikan pahala kepada mereka atas amal perbuatan mereka yang terendah, sebagaimana Kami pun memberikan balasan kepada mereka atas amal-amal tertinggi mereka, sebagai karunia dari kami."

( Tafsir Al-Muyassar (hal. 278), diterbitkan oleh Kementerian Agama Saudi Arabia)

3/ Pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat yang mulia ini adalah :

a/ Sadarilah, bahwa apa yang saat ini ada pada kita dan yang kita miliki, baik yang berupa kekayaan, harta benda yang banyak, keluarga, jabatan dan sebagainya, semuanya itu pasti akan lenyap !

Tidak ada yang menjadi milik kita secara abadi.

b/ Adapun pahala dan balasan dari Alloh, yang disediakan di surga nanti, itulah kesenangan yang kekal abadi.

c/ Karena itulah, sepantasnya kita lebih mementingkan untuk meraih kesenangan yang kekal abadi, daripada kesenangan yang semu dan sementara saja !

d/ Keutamaan orang-orang yang SABAR, khususnya orang yang sabar dalam menetapi syari'at agama ini.

Yakni, sabar dalam melaksanakan perintah Alloh dan Rosul-Nya, dan menjauhi larangan dari keduanya.

Alloh ta'ala akan menyediakan untuk mereka pahala yang sangat melimpah, tanpa ada batasnya..... Semoga kita termasuk golongan mereka......

Wallohu Waliyyul Mu'miniin.....

Surabaya, Kamis pagi yg sejuk, 12 Robi'ul Akhir 1448 H / 24 September 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

https://t.me/fawaidabuabdirrahman

Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
223000
Hubungan nasab mempunyai kedudukan yang besar dalam Islam. Kita tidak boleh meremehkan saudara kandung, keluarga, atau kerabat hanya karena mereka tidak memberikan nasihat agama.

Maka jangan dipahami : “Saudara seiman lebih penting, sehingga saudara kandung boleh ditinggalkan.” Bukan seperti itu.

Maksud atsar ini adalah : dari sisi manfaat bagi agama dan akhirat, seorang saudara seiman yang mengingatkan kepada Allah, bisa lebih bermanfaat daripada kerabat yang hanya memberikan keuntungan materi.

Bahkan yang ideal itu adalah jika ada seorang saudara se-nasab sekaligus saudara seiman yang saling menasihati dalam agama.

e/ Di sinilah pentingnya memilih teman.

Nabi ﷺ bersabda :

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi; derajatnya hasan)

Ya, karena teman dekat mempunyai pengaruh yang sangat besar. Teman yang baik, akan menarik kita kepada kebaikan. Teman yang buruk, bisa sedikit demi sedikit menyeret kita kepada keburukan.

Faedah/pelajaran penting dari atsar Bilal bin Sa'ad rohimahulloh ini :

1/ Ukuran persaudaraan yang bermanfaat bukan sekadar hubungan darah.

Yang paling bermanfaat adalah orang yang membantu kita dalam kebaikan dan ketaatan.

2/ Nasihat agama adalah hadiah yang sangat mahal.

Hadiah berupa uang bisa habis, tetapi nasihat yang menyebabkan seseorang bertaubat, dapat menjadi sebab keselamatannya di akhirat.

3/ Jangan hanya mencari teman yang membuat kita senang, carilah teman yang membuat kita menjadi lebih baik.

4/ Saudara yang mencintai kita, akan mengingatkan kita ketika kita lalai.

Ya, bukan hanya yang suka memuji dan membenarkan kita. Tetapi yang tulus ikhlas mengingatkan kita apabila kita lalai .....

5/ Kita juga hendaknya menjadi saudara seperti itu bagi orang lain.

Jangan hanya berharap mendapatkan teman shalih, tetapi jadilah teman yang mengingatkan saudaranya kepada Alloh.

6/ Nasihat itu harus dilakukan dengan ilmu dan hikmah.

Mengingatkan kepada Allah bukan berarti mencela, mempermalukan, atau merasa lebih suci daripada orang lain.

7/ Dunia dan akhirat tidak sama nilainya.

Harta sangat dibutuhkan dalam kehidupan, tetapi manfaat harta terbatas pada kehidupan dunia. Sedangkan ilmu, nasihat, dan amal shalih, berkaitan dengan kehidupan akhirat yang kekal.

Kesimpulannya :

✓ Seakan-akan, Al-Imam Bilal bin Sa'ad rohimahulloh berkata :

“Jangan ukur kecintaan seseorang kepadamu hanya dari apa yang dia berikan ke tanganmu. Lihatlah juga apa yang dia berikan kepada hatimu.”

✓ Ada orang yang ketika bertemu kita, kantong kita mungkin bertambah, tetapi hati kita tidak berubah.

✓ Ada pula orang yang ketika bertemu kita, mungkin tidak memberikan satu dinar pun, tetapi setelah berpisah kita menjadi ingat kepada Allah, takut berbuat dosa, semangat beribadah, dan ingin memperbaiki diri.

✓ Yang kedua inilah saudara yang sangat berharga.

✓ Dan yang lebih sempurna adalah: dia membantu kebutuhan dunia kita ketika mampu, sekaligus mengingatkan kita kepada Allah dan akhirat.

Demikianlah pembahasan yang ringkas ini, semoga bisa menjadi nasehat dan tambahan ilmu yang bermanfaat untuk kita semuanya ......

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah .....

Surabaya, Rabu pagi yg sejuk, 11 Robi'ul Akhir 1448 H / 23 September 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

https://t.me/fawaidabuabdirrahman

Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
173000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

KEUTAMAAN MEMPUNYAI SAUDARA SEAGAMA, DIBANDINGKAN SAUDARA SENASAB !

• قال بلال بن سعد رحمه الله :

( أَخٌ لَكَ كُلَّمَا لَقِيَكَ ذَكَّرَكَ بِحَظِّكَ مِنَ اللهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَخٍ كُلَّمَا لَقِيَكَ وَضَعَ فِي يَدِكَ دِينَارًا )

حلية الأولياء (٢٢٥/٥)


Al-Imam Bilal bin Sa’ad rohimahulloh (salah seorang ulama dari kalangan Tabi'in), beliau pernah berkata :

“Seorang saudara bagimu, yang setiap kali bertemu denganmu mengingatkanmu tentang bagianmu dari Alloh, itu lebih baik bagimu, daripada seorang saudara yang setiap kali bertemu denganmu meletakkan satu dinar di tanganmu.”

( Hilyatul Auliya’ (5/225), karya Al-Imam Abu Nu'aim Al-Asbahani rohimahulloh)

Catatan :

a/ Atsar ini sangat indah dalam menjelaskan hakikat persaudaraan yang bermanfaat.

✓ Al-Imam Bilal bin Sa'ad رحمه الله membandingkan dua bentuk kebaikan : kebaikan yang memberi manfaat dunia, dan kebaikan yang membantu seseorang memperoleh manfaat akhirat.

Beliau berkata :

أَخٌ لَكَ كُلَّمَا لَقِيَكَ ذَكَّرَكَ بِحَظِّكَ مِنَ اللهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَخٍ كُلَّمَا لَقِيَكَ وَضَعَ فِي يَدِكَ دِينَارًا

“Seorang saudara bagimu, yang setiap kali bertemu denganmu mengingatkanmu tentang bagianmu dari Alloh, itu lebih baik bagimu, daripada seorang saudara yang setiap kali bertemu denganmu meletakkan satu dinar di tanganmu.”

( Hilyatul Auliya’ (5/225), karya Al-Imam Abu Nu'aim Al-Asbahani rohimahulloh)

✓ Apa maksud “حَظِّكَ مِنَ اللهِ” , bagianmu dari Allah ?

Yang dimaksud bukan “bagian dari Dzat Allah” , Maha Suci Alloh dari hal tersebut.

Tetapi maksudnya di sini adalah mengingatkan seseorang tentang hak Alloh yang wajib dia tunaikan dan tentang bagian kebaikan yang dapat dia peroleh dari Allah, seperti :

✓ tauhid dan keikhlasan,
✓ shalat dan ibadah,
✓ taubat ketika berbuat dosa,
✓ sabar ketika mendapat musibah,
✓ syukur ketika mendapat nikmat,
✓ takut kepada Allah,
✓ berharap pahala-Nya,
✓ memperbanyak amal shalih,
✓ meninggalkan maksiat.

Jadi, ketika bertemu dengan kita, dia berkata dengan nasihat yang menghidupkan hati :

✓ “Jangan lupa shalat.”
✓ “Mari kita jaga tauhid.”
✓ “Bertaubatlah kepada Allah.”
✓ “Sabar, ini ujian dari Allah.”
✓ “Jangan sampai dunia membuat kita lupa akhirat.”

Saudara seperti ini sedang membantu kita memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar daripada harta dunia.

b/ Mengapa lebih baik daripada saudara yang memberikan dinar (uang/harta) ?

Bukan berarti memberikan uang kepada saudara itu buruk. Memberi harta kepada orang lain adalah kebaikan, bahkan bisa menjadi sedekah dan silaturahmi.

Namun Al-Imam Bilal bin Sa'ad رحمه الله ingin menunjukkan kepada kita, bahwa : Manfaat akhirat lebih besar daripada manfaat dunia.

Dinar yang diberikan kepada kita mungkin dapat :
✓ mengenyangkan kita hari ini,
✓ memenuhi kebutuhan kita,
✓ membantu urusan dunia kita.

Tetapi seorang saudara yang mengingatkan kita kepada Alloh, bisa menjadi sebab :

✓ kita bertaubat,
✓ meninggalkan dosa,
✓ memperbaiki shalat,
✓ memperbaiki tauhid,
✓ mendapatkan pahala,
✓ selamat dari azab Allah,
✓ dan memperoleh surga.

Maka keberadaan saudara seagama seperti ini, nilai manfaatnya jauh lebih besar.

c/ Saudara terbaik itu bukan sekadar yang menyenangkan kita.

Kadang kita menyukai teman yang selalu membuat kita nyaman, tertawa, memberi hadiah, atau membantu urusan dunia.

Tetapi saudara yang benar-benar mencintai kita, terkadang justru orang yang berani menasihati kita ketika kita salah.

Allah berfirman :

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-'Ashr: 1–3)

Perhatikanlah : تَوَاصَوْا بِالْحَقِّ , mereka saling menasihati dalam kebenaran.

Ini termasuk tanda persaudaraan orang-orang yang beriman.

d/ Persaudaraan karena iman bisa lebih bermanfaat daripada hubungan nasab.

Telegram

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN

Catatan Fawaid Harian & Media Berbagi Ilmu An-Nafi' (yg bermanfaat), Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho Surabaya, Indonesia [ 0812 1777 4917 ]

VIEW CHANNEL
147000
✓ Kalau seseorang itu tidak makan, tubuhnya akan lemah. Tetapi apabila seseorang tidak memiliki ilmu agama, agamanya bisa rusak tanpa dia sadari.

✓ Makanan dibutuhkan beberapa kali dalam sehari, sedangkan ilmu dibutuhkan setiap saat :
✓ ketika shalat → kita membutuhkan ilmu,
✓ ketika bekerja → membutuhkan ilmu,
✓ ketika menikah → membutuhkan ilmu,
✓ ketika mendidik anak → membutuhkan ilmu,
✓ ketika mendapat musibah → membutuhkan ilmu,
✓ ketika mendapatkan rezeki → membutuhkan ilmu,
✓ bahkan ketika hendak berbicara → kita membutuhkan ilmu.

5/ Ilmu itu akan menyelamatkan seseorang dari kesesatan.

Banyak orang memiliki semangat beragama, tetapi semangat saja tidak cukup. Semangat tanpa ilmu dapat menjerumuskan seseorang kepada sikap ghuluw, bid'ah, atau kesalahan dalam memahami agama.

Sebaliknya, ilmu yang benar akan membimbing seseorang untuk mengetahui mana :
✓ tauhid dan syirik,
✓ sunnah dan bid'ah,
✓ halal dan haram,
✓ ketaatan dan kemaksiatan,
✓ hak dan kewajiban.

6/ Ilmu itu harus dipelajari dan diamalkan.

Pernyataan seperti ini, bukan berarti kita hanya membutuhkan dan memperbanyak informasi tentang agama. Tetapi tujuan ilmu itu adalah untuk diamalkan.

Allah berfirman :

فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَن لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَهَلْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Ketahuilah, bahwa Al-Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Maka apakah kamu mau berserah diri ?” (QS. Hud: 14)

Jadi ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membawa seseorang semakin takut kepada Allah, semakin taat, dan semakin baik akhlaknya.

7/ Ilmu adalah kebutuhan sepanjang hidup.

Kita tidak boleh berkata : “Saya sudah belajar agama, jadi tidak perlu belajar lagi.”

Tidak seperti itu. Kita harus terus belajar. Selama hidup, kebutuhan kita terhadap ilmu tidak pernah selesai. Allah memerintahkan Nabi ﷺ :

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha: 114)

Kalau Nabi ﷺ saja diperintahkan untuk meminta tambahan ilmu sebagaimana dalam ayat tersebut di atas, maka kita pun lebih membutuhkan ilmu agama tersebut.

Kesimpulan :

Perkataan dan nasehat tersebut mengajarkan kepada kita :

✓ Makanan itu adalah kebutuhan jasad, sedangkan ilmu agama adalah kebutuhan hati dan agama.

✓ Jasad tanpa makanan akan lemah, tetapi hati dan agama tanpa ilmu dapat mati atau tersesat.

✓ Maka seorang Muslim hendaknya menjadikan menuntut ilmu agama sebagai kebutuhan harian, bukan hanya ketika ada kajian, ketika mendapat masalah, atau ketika menjelang ibadah tertentu.

✓ Semakin kita mencintai Allah, semakin kita membutuhkan ilmu tentang Allah. Semakin kita mencintai Rasulullah ﷺ, semakin kita membutuhkan ilmu tentang Sunnah beliau ﷺ.

✓ Dan ilmu yang paling utama adalah ilmu yang mengantarkan kita kepada tauhid yang benar, ibadah yang sesuai Sunnah, serta akhlak yang baik.

Demikianlah pembahasan yang ringkas ini. Semoga Alloh ta'ala senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita, untuk tetap semangat dalam menuntut ilmu-ilmu agama, dan Istiqomah dalam mengamalkannya...

Semoga nasehat di atas bermanfaat bagi kita semuanya, barokallohu fiikum....

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah ....

Surabaya, Jum'at pagi yg sejuk, 15 Robi'ul Awal 1448 H / 28 Agustus 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :



Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.
120000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

KEBUTUHAN KITA TERHADAP ILMU AGAMA INI LEBIH BESAR DARI MAKANAN & MINUMAN !

قال الإمام ابن القيم رحمه الله تعالى :

[ العلم مفتاح كل خير، وهو الوسيلة إلى أداء ما أوجب الله علينا، فلا إيمان ولا عمل إلا بالعلم، به يُعبد الله، ويؤدى به حقه، ويُنشر به دينه،

والحاجة إلى العلم أعظم من الطعام والشراب؛ لأن قوام الدين والدنيا بالعلم،

قال الإمام أحمد -رحمه الله-: [ "الناس أحوج إلى العلم منهم إلى الطعام والشراب، لأن الطعام والشراب يُحتاج إليه في اليوم مرتين أو ثلاثة، والعلم يُحتاج إليه في كل وقت"]

[ إعلام الموقعين عن رب العالمين (2/182) ]

Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh pernah berkata :

“Ilmu itu adalah kuncinya segala sesuatu, dia adalah wasilah (perantara/sarana) yang membantu kita untuk bisa menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Alloh ta’ala kepada kita.

Tidak ada keimanan dan tidak ada pula amalan, kecuali dengan sebab ilmu.

Dengan perantaraan ilmu inilah, Alloh subhanahu wa ta’ala disembah, ditunaikan hak-hak-Nya, dan disebarluaskannya ilmu-ilmu agama ini.

Kebutuhan kita kepada ilmu (agama) ini adalah lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap makanan dan minuman. (Hal itu karena) tegaknya urusan agama dan dunia ini adalah dengan ilmu !

*Al-Imam Ahmad bin Hambal* rohimahulloh pernah berkata :

“Kebutuhan manusia terhadap ilmu agama itu, lebih besar daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman.

Karena makanan dan minuman itu dibutuhkan dalam sehari itu (hanya) dua kali atau tiga kali saja.

Sedangkan kebutuhan kita terhadap ilmu adalah pada setiap waktu (setiap saat) !”

( I’lamul Muwaqqi’in ‘an Robbil ‘Alamin, (2/182), karya al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh)

Catatan :

Intisari dari perkataan Al-Imam Ibnul Qayyim rohimahulloh dan Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh ini adalah bahwa ilmu agama itu bukan sekadar tambahan dalam kehidupan, tetapi merupakan kebutuhan pokok bagi seorang Muslim.

Faedah atau pelajaran penting yang bisa kita ambil :

1/ Ilmu adalah kunci untuk mendapatkan kebaikan.

Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata :

العلم مفتاح كل خير

“Ilmu adalah kunci segala kebaikan.”

Sebab seseorang tidak mungkin mengetahui apa yang dicintai Allah dan apa yang dibenci-Nya, kecuali dengan ilmu.

Dengan ilmu kita mengetahui :
✓ apa yang wajib dikerjakan,
✓ apa yang haram ditinggalkan,
✓ bagaimana cara beribadah dengan benar,
✓ bagaimana bermuamalah dengan manusia,
✓ dan bagaimana memperbaiki hati dan akhlak.

2/ Iman dan amal itu harus dibangun di atas ilmu.

Beliau mengatakan :

فلا إيمان ولا عمل إلا بالعلم

“Tidak ada iman dan tidak ada amal kecuali dengan ilmu.”

Maksudnya, iman yang benar dan amal yang benar itu membutuhkan ilmu.

Orang yang beramal tanpa ilmu bisa saja menginginkan kebaikan, tetapi justru melakukan sesuatu yang salah karena tidak mengetahui tuntunan Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Allah berfirman :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.” (QS. Muhammad: 19)

Ayat ini menunjukkan, bahwa ilmu itu hendaknya didahulukan sebelum ucapan dan amalan.

3/ Ilmu itu membimbing kita agar ibadah diterima oleh Alloh ta'ala.

Tidak cukup seseorang mengatakan, “Saya ingin beribadah kepada Allah.” Tetapi dia juga harus mengetahui :
✓ kepada siapa dia beribadah,
✓ apa yang disyariatkan,
✓ bagaimana tata caranya,
✓ apa yang membatalkannya,
✓ dan bagaimana mengikuti Rasulullah ﷺ.

Karena itu, ilmu menjadi pembimbing ibadah, agar tidak hanya ikhlas, tetapi juga sesuai dengan Sunnah (tuntunan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam).

4/ Kebutuhan kita terhadap ilmuitu lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap makanan.

Perkataan Imam Ahmad رحمه الله sangat dalam :

الناس أحوج إلى العلم منهم إلى الطعام والشراب

“Manusia itu lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhannya terhadap makanan dan minuman.”

Mengapa ?

✓ Ya, makanan itu menjaga tubuh, sedangkan ilmu menjaga agama dan hati seseorang.
108000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

TIGA KUNCI KEHIDUPAN YANG PALING INDAH

Sahabat Nabi yang mulia, Abdulloh bin Mas'ud rodhiyallohu anhu pernah berkata :

ارض بما قسم الله تكن من أغني الناس، واجتنب المحارم تكن أورع الناس، وأد ما افترض عليك تكن من أعبد الناس.

"Ridholah dengan apa yang telah Alloh bagikan kepadamu (berupa rejeki atau perkara dunia lainnya, sedikit ataupun banyak), niscaya kamu akan menjadi *orang yang paling kaya !*

Jauhilah hal-hal yang diharamkan, niscaya kamu akan menjadi *orang yang paling waro'.*

Dan tunaikanlah apa saja yang telah diwajibkan atasmu, niscaya kamu akan menjadi *orang yang paling tekun beribadah !"*

( Siyar A'lamin Nubala', 1/497)

Catatan :

Nasehat dari Sahabat Nabi yang mulia, Ibnu Mas'ud rodhiyallohu anhu tersebut di atas, mengandung tiga jalan untuk menjadi manusia yang terbaik dalam kehidupan, yaitu :

a/ Ridho dengan pembagian Alloh → menjadi orang yang paling kaya.

Beliau mengatakan :

ارض بما قسم الله تكن من أغنى الناس

"Ridholah dengan apa yang telah Alloh bagikan kepadamu berupa rejeki ini, niscaya kamu menjadi orang yang paling kaya !"

Artinya adalah Qona‘ah, yaitu menerima dengan lapang dada apa yang telah Allah berikan, baik yang sedikit atau pun banyak, tanpa terus-menerus melihat dan iri kepada apa yang dimiliki orang lain.

Kaya yang dimaksud di sini bukan hanya banyak harta, tetapi kaya hati. Orang yang qona‘ah merasa cukup dengan rezeki Alloh, sehingga hatinya tenang dan tidak diperbudak oleh keinginan dunia.

b/ Menjauhi yang haram → menjadi orang yang paling waro'.

Beliau mengatakan :

واجتنب المحارم تكن أورع الناس

"Jauhilah perkara-perkara yang diharamkan, niscaya kamu akan menjadi orang yang paling waro'."

Waro‘ adalah sikap berhati-hati dalam beragama, yaitu dengan meninggalkan perkara yang Alloh haramkan, bahkan menjauhi perkara yang dikhawatirkan dapat menyeret kepada keharaman (yakni perkara syubuhat/yang meragukan).

Jadi, ukuran kewaro'an itu bukan banyaknya perkataan tentang agama, tetapi seberapa kuat seseorang itu menjaga dirinya dari dosa dan perkara haram.

c/ Menunaikan kewajiban → menjadi orang yang paling tekun beribadah.

Beliau juga mengatakan :

وأد ما افترض عليك تكن من أعبد الناس

"Dan tunaikanlah apa yang diwajibkan atas dirimu, niscaya kamu akan menjadi orang yang paling tekun beribadah !"

Ibadah yang paling utama itu bukan sekadar memperbanyak amalan sunnah, tetapi menjaga dan menunaikan kewajiban-kewajiban, seperti : shalat, puasa Romadhon, menunaikan amanah, berbakti kepada orang tua, membayar kewajiban yang menjadi tanggungan, dan sebagainya.

Setelah kewajiban-kewajiban itu dijaga, barulah seseorang memperbanyak amalan-amalan yang sunnah.

Faedah atau pelajaran ringkas dari nasehat tersebut :

1/ Tiga kunci kehidupan yang sangat indah :

✓ Dengan sikap Qana‘ah → hati menjadi kaya.
✓ Meninggalkan yang haram → agama menjadi terjaga.
✓ Menunaikan kewajiban → ibadah menjadi kokoh/kuat.

2/ Jadi, kebahagiaan itu tidak selalu dengan memiliki sesuatu yang lebih banyak, tetapi dengan merasa cukup terhadap pemberian Alloh, menjauhi dosa, dan taat kepada-Nya.

Dalil yang menguatkan hal tersebut, diantaranya adalah sabda Nabi ﷺ :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang mencukupinya, dan Alloh menjadikannya qona‘ah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Yang intinya adalah : kekayaan yang hakiki itu adalah sikap qona‘ah, yaitu merasa cukup dengan pemberian Alloh, sedikit maupun yang banyak.

Demikianlah, semoga Alloh subhanahu wa ta'ala senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua, agar selalu mensyukuri nikmat dari-Nya, dan mudah menggunakannya dalam melakukan amal-amal ketaatan kepada Alloh .....

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah .....

Surabaya, Kamis pagi yg sejuk, 14 Robi'ul Awal 1448 H / 27 Agustus 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :
169000
"Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (QS Al-An'am : 155)

Kesimpulannya :

Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh ini mengajarkan kepada kita :

a/ Bacalah Al-Qur’an dengan hati yang ingin mendapatkan petunjuk.

b/ Tadabburilah maknanya, pahami apa yang Alloh kehendaki, kemudian amalkan.

c/ Barang siapa benar-benar mencari petunjuk dari Al-Qur’an, Alloh akan menjelaskan kepadanya jalan kebenaran itu.

d/ Maka janganlah kamu hanya bertanya ketika membaca Al-Qur’an : “Berapa halaman yang sudah saya baca?”

Tetapi tanyakan pula : “Petunjuk apa yang sudah saya dapatkan dari ayat yang saya baca, dan apa yang akan saya amalkan ?”

Wallohu a'lamu bis showab ....

Demikianlah. Semoga Alloh subhanahu wa ta'ala senantiasa memberikan hidayah/petunjuk kepada kita dengan Al-Qur'an yang selalu kita baca dan kita pahami ......

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah .....

Surabaya, Rabu pagi yg sejuk, 13 Robi'ul Awal 1448 H / 26 Agustus 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :



Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.
276000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

MENCARI PETUNJUK ALLOH DENGAN TADABBUR AL-QUR'AN

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله :

( من تدبر القرآن طالبا للهدى منه، تبين له طريق الحق )

( مجموع الفتوى، ٣/١٣٧)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh pernah berkata :

«مَنْ تَدَبَّرَ الْقُرْآنَ طَالِبًا لِلْهُدَى مِنْهُ، تَبَيَّنَ لَهُ طَرِيقُ الْحَقِّ»

“Barang siapa mentadabburi Al-Qur’an dengan tujuan mencari petunjuk darinya, niscaya akan menjadi jelas baginya jalan kebenaran.” ( Majmū‘ al-Fatāwā, 3/137)

Catatan :

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh menjelaskan, bahwa Al-Qur’an itu bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk ditadabburi dan dijadikan petunjuk dalam kehidupan.

Perkataan beliau : “dengan mencari petunjuk darinya.”

Artinya, seseorang itu ketika membaca Al-Qur’an hendaknya memiliki hati yang ingin mengetahui :
✓ Apa yang Allah perintahkan kepadaku ?
✓ Apa yang Allah larang ?
✓ Apa yang Allah cintai ?
✓ Apa yang Allah benci ?
✓ Bagaimana aqidah yang benar ?
✓ Bagaimana cara beribadah yang benar ?
✓ Bagaimana akhlak yang seharusnya aku miliki ?
✓ Bagaimana menghadapi ujian dan kehidupan ?

Jika seseorang membaca Al-Qur’an dengan hati seperti ini, Allah akan membukakan baginya jalan kebenaran.

Faedah dan pelajaran :

1/ Al-Qur’an itu adalah kitab petunjuk, bukan sekadar kitab bacaan.

Allah berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan *Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi umat manusia.”* (QS. Al-Baqarah: 185)

Maka semakin seseorang itu dekat dengan Al-Qur’an dengan cara yang benar, semakin besar peluangnya mendapatkan untuk petunjuk.

2/ Tadabbur Al-Qur'an itu membutuhkan hati yang ingin mencari kebenaran.

Ada orang yang membaca Al-Qur’an hanya untuk mendapatkan pahala bacaan. Itu baik.

Tetapi orang yang lebih sempurna adalah orang yang membaca Al-Qur'an itu sambil bertanya kepada dirinya : “Apa yang Allah kehendaki dariku melalui ayat ini ?”

Dengan demikian, Al-Qur’an akan memengaruhi iman, ibadah, akhlak dan perilakunya.

3/ Petunjuk Al-Qur’an akan mengeluarkan seseorang dari kebingungan.

Ketika manusia bingung dalam menentukan mana yang benar dan mana yang salah, Al-Qur’an menjadi cahaya yang menerangi jalannya.

Allah ta'ala berfirman :

قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ ۝ يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ

“Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itu Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya menuju jalan-jalan keselamatan.” (QS. Al-Mā’idah: 15–16)

4/Tadabbur Al-Qur'an seharusnya menghasilkan perubahan.

✓ Jika kita membaca ayat tentang sabar, kita berusaha untuk menjadi lebih sabar.
✓ Membaca ayat tentang menjaga lisan, kita berusaha menjaga lisan.
✓ Membaca ayat tentang shaolat, kita berusaha memperbaiki sholat.
✓ Membaca ayat tentang larangan maksiat, kita berusaha meninggalkannya.

Jadi, tanda seseorang benar-benar mentadabburi Al-Qur’an adalah adanya pengaruh Al-Qur’an itu terhadap kehidupannya.

Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman :

كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka mentadabburi (memperhatikan ayat-ayatnya) dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran." (QS Shood : 29)

Alloh ta'ala juga berfirman :

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ ٱخْتِلَٰفًا كَثِيرًا

"Maka apakah mereka tidak mentadabburi (memperhatikan) Al-Quran ? Kalau kiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (QS An-Nisa' : 82)

Alloh ta'ala juga berfirman :

وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ مُبَارَكٌ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
201000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

TETAP KOKOHLAH DI ATAS AL-HAQ (KEBENARAN), JANGAN LEMAH ….

‏قال الشيخ العلامة محمد بن صالح العثيمين رحمه الله :
( إن كنت وحيداً في بلدك تدعوا إلى السنة واتباع السلف، وكثر اﻷعداء الذين يدعون إلى مذهبهم الباطل ، فالواجب ألا تنهزم ، لأنك إذا انهزمت فقد هزمت الحق ، بل أثبت وما أرعب أعداءك إذا رأوك ثابتاً )
📚 شرح الكافية الشافية (٢٠١/١)..

Syaikh Al-‘Allāmah Muhammad bin Sholih aAl-‘Utsaimin rohimahulloh pernah berkata :

“Jika kamu seorang diri di negerimu dalam berdakwah kepada As-Sunnah dan mengikuti jalan Salaf, sementara banyak musuh yang menyeru kepada mazhab mereka yang bathil, maka wajib bagimu untuk tidak mundur dan tidak merasa kalah.

Karena jika kamu mundur, berarti kamu telah mengalahkan kebenaran. Akan tetapi, tetaplah teguh/kokoh.

Dan tidak ada sesuatu yang lebih membuat musuh-musuhmu gentar, daripada ketika mereka melihatmu tetap teguh/kokoh (di atas kebenaran tersebut).”

📚 Syarh al-Kāfiyah asy-Syāfiyah (1/201).

Faedah atau Pelajaran Penting dari nasehat tersebut :

1/ Bahwa kebenaran itu tidak diukur dari banyaknya pengikut.

Seseorang itu tidak boleh meninggalkan kebenaran, hanya karena merasa sendirian atau karena orang yang menyelisihinya lebih banyak.

2/ Istiqomah di atas kebenaran itu membutuhkan keberanian dan kesabaran.

Ketika seseorang meyakini, bahwa yang dia pegang itu berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaf, hendaknya dia tetap teguh/kokoh di atas kebenaran tersebut dengan ilmu dan hikmah.

3/ Jangan menyerah hanya karena tekanan.

Jika seseorang meninggalkan kebenaran karena takut kepada celaan atau banyaknya orang yang menentangnya, maka secara tidak langsung dia telah memberikan kemenangan kepada kebathilan.

4/ Keteguhan/kekokohan itu lebih kuat daripada banyaknya perdebatan.

Musuh dakwah akan lebih gentar ketika melihat seorang yang tenang, berilmu, sabar, dan istiqomah, daripada orang yang mudah terpancing emosi.

5/ Teguh/kokoh itu bukan berarti kasar.

Istiqomah di atas As-Sunnah itu tidak berarti mencela atau menzalimi orang lain. Tetaplah berdakwah dengan ilmu, hikmah, kesabaran, dan akhlak yang baik, biarpun orang lain tidak suka.

Inti dari nasihat ini adalah :

a/ Jangan tinggalkan kebenaran, hanya karena kamu merasa sendirian.

b/ Jika kebenaran itu telah jelas berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafus Sholih, tetaplah istiqomah, bersabar, dan jangan mudah goyah oleh banyaknya orang yang menyelisihi kebenaran itu.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman :

فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah kamu Istiqomah (berada di atas jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu, dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Huud : 112)

Di dalam ayat yang mulia ini, Alloh memerintahkan kita agar tetap istiqomah/teguh di atas kebenaran yang diperintahkan Alloh, sekalipun menghadapi tekanan, kesulitan, atau banyak orang yang menyelisihinya.

Faedahnya : yang menjadi ukuran itu bukan banyak atau sedikitnya orang yang mengikuti kita, tetapi apakah kita tetap berada di atas perintah Alloh dan Sunnah Rosul-Nya ataukah tidak.

Wallohu a’lamu bis showab .....

Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua, agar tetap istiqomah di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana yang dipahami dan diamalkan oleh para Salafus Sholih, sampai akhir hayat kita nanti ….

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah …….

Surabaya, Selasa pagi yg sejuk, 12 Robi'ul Awal 1448 H / 25 Agustus 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :



Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.
169000
✓ Dalam doa tersebut juga dinyatakan :

وَلَكِنْ مُذْنِبٌ مُسْتَغْفِرٌ

“Akan tetapi, aku adalah orang yang berdosa lagi memohon ampun.”

Inilah inti dari doa tersebut. Dia tidak berkata : “Aku ini orang yang baik, maka selamatkan aku.”

Tetapi dia berkata : “Aku ini orang yang berdosa, maka aku memohon ampun kepada-Mu.”

Inilah hakikat seorang hamba : dia mengakui kelemahan diri, mengakui dosa, kemudian kembali kepada Allah dengan istighfar (memohon ampunan kepada-Nya).

Faedah atau pelajaran penting dari pernyataan tersebut :

1/ Seorang mukmin itu harus menggabungkan antara perasaan khauf (takut kepada Alloh) dan roja’ (berharap kepada Alloh).

Yakni, takut kepada adzab Alloh, tetapi juga tetap berharap kepada rahmat dan ampunan-Nya.

Jangan hanya takut secara berlebihan hingga berputus asa. Dan jangan pula berharap kepada rahmat Allah, tetapi terus-menerus berani berbuat dosa/maksiat.

2/ Semakin mengenal dirinya, seorang hamba itu akan semakin membutuhkan Alloh ta'ala.

Kita sebenarnya tidak memiliki kekuatan secara mandiri. Kesehatan, harta, jabatan, keluarga, ilmu, bahkan kemampuan untuk beribadah, semuanya itu adalah nikmat yang datang dari Alloh.

3/ Mengakui dosa adalah bagian penting dari taubat.

Orang yang selalu merasa dirinya benar, akan sulit bertaubat. Sebaliknya, orang yang mengatakan :
“Ya Allah, aku banyak salah. Aku banyak dosa. Aku lemah. Ampunilah aku.” Dia akan lebih dekat kepada pintu taubat.

4/ Jangan mengandalkan amal kita sendiri.

Amal kita ini penuh kekurangan. Shalat kita mungkin kurang khusyuk, sedekah kita mungkin bercampur riya', puasa kita mungkin banyak kekurangannya.
Karena itu, setelah beramal kita tetap membutuhkan istighfar (memohon ampunan kepada Alloh).

Bahkan Nabi ﷺ, padahal beliau adalah manusia yang paling mulia, beliau beristighfar kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari, dan dalam riwayat lain 100 kali sehari.

5/ Doa ini mengajarkan kepada kita adab yang sangat tinggi dalam berdoa.

Sebelum meminta, seseorang itu hendaknya mengakui keadaan dirinya : “Aku takut… aku fakir… aku berdosa… aku lemah…”

Kemudian dia meminta kepada Alloh. Hal ini menunjukkan, kehinaan dan ketundukan seorang hamba di hadapan Rabb-nya.

Pelajaran yang sangat menyentuh :

Dalam doa tersebut ada satu kalimat yang sangat layak direnungkan :

وَلَكِنْ مُذْنِبٌ مُسْتَغْفِرٌ

“Tetapi aku adalah orang yang berdosa lagi memohon ampun.”

Seolah-olah dia mengatakan : “Ya Alloh, aku tidak mempunyai alasan untuk membanggakan diriku. Aku tidak mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan diriku sendiri. Aku hanya mempunyai satu jalan : kembali kepada-Mu, mengakui dosaku dan memohon ampun kepada-Mu.”

Inilah ruh taubat dan ubudiyyah (penghambatan diri di hadapan Alloh).

Dan sangat indah, bahwa kemudian Abu Darda’ rodhiyallohu anhu mengajarkan doa ini kepada para sahabatnya, karena beliau kagum terhadap kandungannya.

Ini menunjukkan, besarnya perhatian para Sahabat Nabi terhadap doa-doa yang mengandung tauhid, penghambaan, pengakuan kelemahan diri, dan kebutuhan kepada Alloh ta'ala.

Catatan :

Doa tersebut di atas, bukan berasal dari hadits Nabi shollallohu alaihi wa sallam, tetapi mengandung makna yang benar dan tidak bertentangan dengan syari'at agama, sehingga tidak masalah untuk diamalkan dan berdoa dengannya. Wallohu a'lamu bis showab .....

Demikianlah, semoga Alloh subhanahu wa ta'ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua, agar selalu mau bertobat dan kembali kepada Alloh ta'ala, sehingga Alloh ta'ala berkenan membersihkan diri-diri kita dari semua dosa dan kesalahan .....

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah .....

Surabaya, Senin pagi yg sejuk, 11 Robi'ul Awal 1448 H / 24 Agustus 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :



Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.
122000
📚 Fawaid Pagi Hari Ini :

AKUILAH KELEMAHAN DAN KEBUTUHAN DIRI DI HADAPAN ALLOH !

📂 قال أبو الدرداء رضي الله عنه :

أدلجت ذات ليلة إلى المسجد، فلما دخلت مررت على رجل ساجد وهو يقول : ( اللهم خائف مستجير، فأجرني من عذابك، وسائل فقير فارزقني من فضلك، لا مذنب فاعتذر ولا ذو قوة فأنتصر، ولكن مذنب مستغفر )

قال: فأصبح أبو الدرداء يعلمهن أصحابه اعجابا بهن.

📓 حلية الأولياء ( 119 / 1


Sahabat Nabi yang mulia, Abu Darda’ rodhiyallohu anhu pernah berkata :

“Pada suatu malam, aku pergi menuju masjid. Ketika aku masuk, aku melewati seorang laki-laki yang sedang sujud. Dia berdoa :

"Ya Alloh, aku adalah orang yang takut dan memohon perlindungan, maka lindungilah aku dari adzab-Mu.

Aku adalah orang yang meminta dan fakir (sangat membutuhkan), maka karuniakanlah kepadaku dari kemurahan-Mu.

Aku bukanlah seorang yang tidak berdosa, sehingga dapat meminta maaf. Dan bukan pula orang yang memiliki kekuatan, sehingga dapat membela diri.

Akan tetapi, aku adalah seorang yang berdosa lagi memohon ampun (kepada-Mu)."

Kemudian Abu Darda’ berkata : "Pada pagi harinya, aku mengajarkan doa tersebut kepada para sahabatku, karena aku kagum terhadap kandungan doa tersebut."

📚 Hilyatul Auliya’ (1/119), karya Al-Imam Abu Nu'aim Al-Asbahani rohimahulloh)

Catatan :

Doa ini mengandung pengakuan seorang hamba terhadap keadaan dirinya di hadapan Alloh.

✓ Dalam doa tersebut, dinyatakan :

أَللَّهُمَّ خَائِفٌ مُسْتَجِيرٌ، فَأَجِرْنِي مِنْ عَذَابِكَ

“Ya Alloh, aku takut dan memohon perlindungan, maka lindungilah aku dari azab-Mu.”

Ini menunjukkan khouf (rasa takut) kepada Alloh.

Ya, seorang mukmin itu tidak merasa aman dari dosa dan adzab Alloh. Dia takut karena menyadari banyaknya kekurangan dan dosa dirinya. Namun rasa takut tersebut tidak membuatnya berputus asa. Justru dia lari menuju kepada Alloh untuk mendapatkan perlindungan-Nya.

Allah berfirman :
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

“Maka berlarilah kalian menuju kepada Alloh.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)

Jadi, tempat berlindung dari adzab Alloh adalah Alloh ta'ala itu sendiri.

✓ Dalam doa tersebut juga dinyatakan :

وَسَائِلٌ فَقِيرٌ فَارْزُقْنِي مِنْ فَضْلِكَ

“Aku adalah orang yang meminta dan fakir (sangat membutuhkan), maka berilah aku rezeki dari karunia-Mu.”

Ini adalah pengakuan, bahwa kita sepenuhnya membutuhkan Alloh. Bukan hanya harta yang kita butuhkan. Kita sangat membutuhkan :
✓ ampunan Allah,
✓ hidayah (petunjuk Alloh)
✓ kesehatan,
✓ ketenangan hati,
✓ kekuatan untuk beribadah,
✓ keselamatan dari dosa,
✓ dan juga keselamatan di akhirat nanti.

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kalianlah yang fakir (membutuhkan) kepada Alloh, sedangkan Alloh Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

✓ Dalam doa tersebut juga dinyatakan :

لَا مُذْنِبٌ فَأَعْتَذِرُ

“Aku bukanlah orang yang tidak berdosa, sehingga aku dapat mengatakan bahwa aku tidak bersalah.”

Maknanya : “Ya Alloh, aku mengakui bahwa aku adalah orang yang berdosa.”

Ini adalah sikap yang sangat penting dalam taubat. Orang yang ingin mendapatkan ampunan Alloh harus mengakui kesalahannya, bukan membela diri, mencari-cari alasan, atau merasa dirinya bersih.

Allah memuji orang-orang yang mengakui dosanya :

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi dirinya sendiri, mereka mengingat Alloh lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 135)

✓ Dalam doa tersebut juga dinyatakan :

وَلَا ذُو قُوَّةٍ فَأَنْتَصِرُ

“Dan aku bukanlah orang yang mempunyai kekuatan sehingga aku dapat membela diri.”

Artinya, betapa lemahnya manusia di hadapan Alloh. Seandainya seseorang memiliki jabatan tinggi, kekayaan yang banyak, pasukan, pengawal, atau kekuatan fisik, semuanya tidak akan mampu menyelamatkannya dari Alloh, apabila Alloh menghendaki sesuatu terhadapnya.

Maka seorang hamba tidak boleh sombong dengan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya.
172000
Kita berharap, semoga Alloh subhanahu wa ta'ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua, agar selalu mudah dan ringan dalam melakukan amal-amal ketaatan, dan dijauhkan dari amal-amal kejelekan.

Nas-alulloha At-Taufiq wal Istiqomah .....

Surabaya, Sabtu pagi yg sejuk, 9 Shafar 1448 H / 22 Agustus 2026 M

✍ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :



Atau link rekaman audio kajian kami :

https://t.me/kajianabuabdirrahman

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.
265000

Showing 30 of 85 posts

Peringkat

Diperlukan Masuk

Frequently Asked Questions

Channel Telegram FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN tentang apa?+

FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN (@fawaidabuabdirrahman) adalah channel Telegram di kategori Motivasi Harian di tgdio. Lihat ranking, rating, ulasan, dan postingan terbaru sebelum berlangganan. Saat ini sekitar 3.839 subscriber di tgdio.

Bagaimana bergabung dengan FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN (@fawaidabuabdirrahman)?+

Buka profil di tgdio, lalu Join / Open in Telegram untuk berlangganan @fawaidabuabdirrahman gratis.

Apakah FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN channel Motivasi Harian yang bagus?+

Di tgdio Anda bisa cek rating, ulasan, ranking, dan postingan FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN sebelum bergabung. Saat ini sekitar 3.839 subscriber di tgdio. Bandingkan dengan channel Motivasi Harian serupa.

Di mana melihat statistik dan postingan FAWAID HARIAN ABU ABDIRROHMAN?+

Di tgdio, buka halaman @fawaidabuabdirrahman untuk statistik, ranking, rating, dan postingan.